Kerusuhan Prancis di Bawah Bayang-Bayang Rasisme

foto: Aksi Demonstran terhadap kematian Nahel di Prancis

Internasional Kota Kita,- Prancis membara. Gelombang unjuk rasa meningkat menjadi aksi kerusuhan setelah kematian seorang remaja bernama Nahel Merzouk. Pria keturunan Afrika Utara berusia 17 tahun ini tewas ketika Polisi berusaha menghentikannya dikarenakan melanggar lalu lintas.

Dilansir dari beberapa sumber media Prancis, diketahui bahwa tewasnya Nahel telah membuat kerusuhan di Negeri yang identik dengan icon Menara Eiffel ini berkobar. Aksi demonstrasi besar-besaran terjadi di seluruh negeri.

Meski dibantah oleh pemerintahan Perancis, kematian Nahel tidak lepas dari adanya prasangka rasial aparat terhadap kelompok minoritas.

Peristiwa ini seolah membangkitkan kembali ketegangan polisi dengan pemuda. Luka lama tentang kekerasan polisi dan rasisme sistemik di dalam lembaga penegak hukum, terutama pada warga non-pribumi yang berpenghasilan rendah di pinggiran kota Paris.

Situasi ini semakin memanas ketika muncul gerakan penggalangan dana bagi keluarga korban dan pelaku penembakan. Awalnya dukungan penggalangan dana diprakarsai oleh pihak yang mendukung keluarga korban penembakan Nahel. Tak lama kemudian, Jean Messiha, tokoh media sayap kanan mengkampanyekan penggalangan dana untuk membantu keluarga polisi pelaku penembakan.

Tak tanggung-tanggung, jumlah penggalangan dana bagi keluarga Polisi mencapai angka 1 juta euro atau sekitar Rp. 16,4 milyar. Lima kali lebih bayak dari penggalangan dana bagi keluarga korban penembakan Nahel. Penggalangan dana ini merupakan representasi dukungan terhadap masing-masing pihak dan menjadikan situasi semakin memanas.

Hingga hari ke lima kerusuhan (2/7/2023), kementerian dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa 719 orang telah ditangkap, 45 petugas kepolisian terluka, 577 kendaraan dan 74 bangunan dibakar, serta tercatat 871 kebakaran di jalan umum. Bahkan rumah wali kota Neuilly-Sur-Meme tidak lepas dari target sasaran pembakaran.

Zartoshte Bakhtiari, Walikota Neuilly-Sur-Marne menyampaikan pernyataan yang menyesakkan. Ia merasa seperti hidup di neraka dalam melalui beberapa hari kerusuhan di salah satu daerah termiskin di Prancis sebelah timur Paris ini.

Meski masih dalam eskalasi kecil, kerusuhan Prancis tampaknya mulai menjalar ke Swiss. Dilansir dari tempo.co, dikabarkan Polisi Swiss setidaknya menangkap enam remaja menyusul kerusuhan di kota Lausanne. Peristiwa ini disebut terinspirasi dari kerusuhan di Prancis. Isu Rasisme telah menjadi ancaman serius di benua Eropa. Isu yang cukup sensitif dan perlu penaganan yang cermat agar tidak menjadi gerakan yang liar.

Editor : Henri Samosir.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *