Kericuhan tragis kembali mewarnai panggung sepak bola antar kampung (tarkam) di Indonesia. Kali ini, sebuah insiden kekerasan menimpa seorang pengadil lapangan di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Wasit yang memimpin jalannya laga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh sejumlah pemain dan penonton akibat berselisih paham dalam drama adu penalti pada Selasa (11/8).
Ketegangan bermula dari perbedaan tafsir atas jalannya pertandingan. Kapolsek Cigudeg, Kompol Budi Sehabudin, mengungkapkan bahwa perselisihan pecah ketika penendang pertama dari salah satu tim gagal mengeksekusi penalti dengan baik. Bola membentur tiang gawang lalu memantul keluar lapangan. Namun, sang penendang bersikeras bahwa bola tersebut telah masuk dan sah menjadi gol.
Ketika wasit tetap teguh pada keputusannya bahwa tidak ada gol yang tercipta, situasi langsung memanas. Rasa tidak puas dari pihak tim penendang langsung menyulut emosi massa di lapangan. Rekaman video amatir yang kemudian viral di media sosial memperlihatkan detik-detik menegangkan saat sang wasit dihujani pukulan dan tendangan dari berbagai arah hingga tersungkur di tanah.
Meskipun beberapa petugas keamanan lingkungan setempat telah berupaya keras meredam kemarahan massa dan melerai aksi tersebut, amuk massa tetap tidak terbendung. Beruntung, pihak kepolisian memastikan bahwa korban tidak mengalami luka yang sangat serius setelah insiden tersebut reda.
“Meskipun di dalam video terlihat sangat babak belur, korban sebenarnya hanya mengalami luka goresan ringan dan tidak menderita cedera berat,” jelas Kompol Budi Sehabudin saat dikonfirmasi.
Guna mencegah konflik berbuntut panjang dan menyelesaikan masalah ini secara kondusif, Polsek Cigudeg segera turun tangan untuk melakukan mediasi antara pihak-pihak yang terlibat. Langkah persuasif ini diambil agar situasi keamanan di wilayah Sukajaya tetap terjaga dengan baik.
Tragedi ini kembali menjadi alarm keras bagi pencinta sepak bola lokal di tanah air. Pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dan menghormati keputusan pengadil lapangan harus tetap menjadi prioritas utama. Hal ini sangat krusial agar turnamen tarkam yang sejatinya berfungsi sebagai hiburan masyarakat tidak terus-menerus ternoda oleh aksi anarkis di lapangan hijau.








