Jakarta terus berbenah, tak hanya dalam hiruk pikuk pembangunannya, namun juga dalam upaya mewujudkan kota yang benar-benar inklusif dan ramah bagi seluruh warganya. Sebuah langkah progresif kembali digaungkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kali ini terkait Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) ikonik yang kerap dijuluki ‘Love-Hate Relationship’ di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. JPO ini dipastikan akan dibongkar, membuka jalan bagi fasilitas aksesibilitas yang jauh lebih modern dan fungsional.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan pembongkaran JPO lama tersebut rampung paling lambat September atau Oktober mendatang, memastikan pelaksanaannya tidak mengganggu arus lalu lintas di Jalan H.R. Rasuna Said. Keputusan ini, tegas Pramono, merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas fasilitas publik, khususnya bagi penyandang disabilitas dan lansia.
Latar belakang keputusan ini tak lepas dari hasil tinjauan langsung Gubernur pada Minggu (9/8) lalu. Di lokasi, dua JPO yang berdekatan terlihat memiliki fungsi dan fasilitas yang kontras. JPO lama, yang dibangun Pemprov DKI Jakarta, kini tampak usang dan minim fitur aksesibilitas. Sebaliknya, JPO integrasi yang lebih baru, dibangun oleh pihak LRT dan KAI, telah dilengkapi dengan lift dan guiding block, menjadikannya pilihan yang jauh lebih baik bagi semua kalangan, terutama mereka yang berkebutuhan khusus.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memilih opsi menyambungkan kedua JPO. Alasannya sangat teknis dan berorientasi pada kenyamanan pengguna. Terdapat perbedaan ketinggian lantai sekitar 75 sentimeter antara kedua jembatan, yang jika dipaksakan disambung, justru akan mengurangi kenyamanan dan aksesibilitas. “Yang satu akan kita bongkar. Alasannya karena yang satu itu betul-betul tidak ramah terhadap disabilitas. Kalau kita sambungkan, ada beda ketinggian yang cukup tinggi,” jelas Pramono.
Dengan dibongkarnya JPO lama, seluruh akses penyeberangan di area tersebut akan difokuskan melalui JPO integrasi. Ini berarti, warga dapat menikmati konektivitas yang mulus antara Stasiun LRT Rasuna Said dan Halte Transjakarta, didukung fasilitas modern yang memastikan setiap individu dapat bergerak dengan mandiri dan nyaman. Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Heru Suwondo, menyebut proses pembongkaran akan dimulai setelah administrasi aset dan pelelangan selesai, diperkirakan memakan waktu dua hingga tiga minggu.
Langkah ini bukan sekadar pembongkaran fisik, melainkan simbol komitmen Jakarta dalam membangun kota yang lebih manusiawi dan berpihak pada semua lapisan masyarakat. Optimalisasi JPO Rasuna Said menjadi JPO integrasi yang modern dan ramah disabilitas adalah bukti nyata bahwa infrastruktur publik bukan hanya soal fungsi, tetapi juga tentang inklusivitas dan martabat. Ini adalah babak baru bagi aksesibilitas transportasi publik di Jakarta, sebuah investasi jangka panjang untuk kenyamanan dan kemudahan mobilitas seluruh warga Ibu Kota.

