Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan perairan Selat Sunda dilaporkan kembali mengalami peningkatan signifikan. Gunung api aktif tersebut tercatat mengalami rentetan erupsi sebanyak 19 kali sepanjang hari, memicu kepulan kolom abu vulkanik yang membubung ke udara.
Berdasarkan data rekaman seismik, amplitudo dari rangkaian letusan tersebut berada pada rentang 30 hingga 64 milimeter dengan durasi gempa berkisar antara 21 sampai 197 detik. Kolom abu vulkanik teramati membubung hingga ketinggian sekitar 400 meter di atas puncak kawah, membawa material halus yang menyebar di sekitar wilayah perairan.
Laporan resmi dari pos pantau Magma Indonesia di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, mencatat kegempaan didominasi oleh 64 kali gempa hembusan dengan amplitudo 15-59 milimeter dan durasi 18-150 detik. Petugas pos pengamatan, Deny Mardiono, memaparkan bahwa terekam pula 20 kali gempa harmonik, 4 kali gempa frekuensi rendah (low frequency), serta 19 kali gempa fase banyak (hybrid). Selain itu, instrumen seismograf merekam satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 2-55 milimeter yang didominasi pada angka 20 milimeter.
Dinamika kegempaan ini terpantau masih berlanjut hingga keesokan paginya. Pada rentang dini hari hingga pukul 06.00 WIB, terdeteksi tambahan gempa hembusan, lima kali gempa harmonik dengan durasi hingga 424 detik, gempa hybrid, serta getaran tremor menerus dengan dominasi amplitudo 1 milimeter. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pergerakan fluida dan suplai magma dari perut bumi masih berlangsung secara aktif.
Menyikapi eskalasi aktivitas tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan peringatan tegas bagi masyarakat. Warga, wisatawan, hingga nelayan yang melintasi Selat Sunda diinstruksikan untuk tidak beraktivitas di sekitar kawah dalam radius bahaya 3 kilometer. Pembatasan jarak ini sangat krusial untuk mengantisipasi potensi bahaya lontaran material pijar dan paparan abu vulkanik tebal.








