Viral! Skandal Hafalan Al-Quran Berhadiah Miras di The Sounds Project, 5 Pihak Dilaporkan ke Polisi

Jakarta digemparkan oleh sebuah insiden kontroversial yang terjadi dalam gelaran festival musik akbar, The Sounds Project. Sebuah promosi yang diduga kuat menistakan agama, di mana tantangan hafalan ayat suci Al-Quran ditawarkan dengan imbalan minuman keras, kini telah memicu gelombang kemarahan publik dan berujung pada tindakan hukum serius. Tim Hukum Muslim, melalui advokat Muhammad Rizki, secara resmi melaporkan lima pihak ke Polda Metro Jaya, mendesak pertanggungjawaban atas dugaan penodaan nilai-nilai agama.

Insiden yang terjadi pada Minggu, 9 Agustus lalu di Ancol, Jakarta Utara, sontak menjadi buah bibir setelah video-videonya viral di media sosial. Cuplikan tersebut memperlihatkan sebuah booth produk minuman keras yang mengadakan challenge hafalan Surah Ad-Duha, salah satu surah dalam Al-Quran, di mana peserta yang berhasil akan mendapatkan sebotol minuman keras. Aksi ini langsung menuai kecaman luas, dianggap merendahkan kesucian Al-Quran dan mencederai sensitivitas umat beragama.

Read More

Menanggapi keresahan ini, Muhammad Rizki didampingi timnya, pada 11 Agustus, telah mendaftarkan laporan polisi dengan nomor LP/B/5914/VII/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Laporan ini merujuk pada dugaan tindak pidana penistaan agama, sebagaimana diatur dalam Pasal 300 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang baru. Lima pihak yang dilaporkan adalah: event organizer (EO) The Sounds Project, produsen minuman keras Newport (Orang Tua Group) dkk, dua orang pembawa acara atau MC, dan seorang perempuan yang melafazkan Al-Quran dalam tantangan tersebut.

Penyelenggara The Sounds Project segera mengeluarkan pernyataan resmi. Dalam unggahan di akun Instagramnya, mereka menyatakan kemarahan, kekecewaan, dan mengecam keras perilaku tersebut. Mereka menegaskan bahwa kejadian itu sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali mereka, serta tidak pernah membenarkan penggunaan agama sebagai bahan promosi produk apapun.

Senada dengan itu, salah satu MC yang terlibat, Revnaldo Ega, juga menyampaikan permohonan maaf publik melalui akun media sosialnya. Ega, yang bertindak sebagai MC di booth Newport, mengakui kelalaiannya dalam mengendalikan situasi dan mengklaim bahwa insiden tersebut merupakan aksi spontan dari audiens. Ia berjanji menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga untuk lebih sigap dan bertanggung jawab di masa depan.

Tak ketinggalan, manajemen Newport, melalui Direktur Handoko Sasongko, juga menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, dan masyarakat Indonesia. Mereka menyesali kegaduhan yang timbul dan menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan merupakan program, konsep promosi, atau arahan dari Newport. Handoko mengklaim aksi itu muncul secara spontan dari pengunjung, sambil mengakui adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan yang memungkinkan terjadinya tindakan tidak sesuai nilai agama dan budaya.

Kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya kehati-hatian dalam setiap aktivitas publik, terutama yang melibatkan simbol-simbol agama. Penyelidikan oleh pihak kepolisian diharapkan dapat mengungkap fakta sebenarnya dan memastikan akuntabilitas semua pihak yang terlibat, demi menjaga harmoni sosial dan menghormati nilai-nilai sakral di tengah masyarakat majemuk Indonesia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *