Sungai Karang Mumus, dahulu adalah denyutan jantung Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Alirannya yang jernih memantulkan langit biru, menjadi jalur vital bagi perahu-perahu nelayan yang membawa berkah, serta sumber kehidupan tak terbatas bagi siapa saja yang menggantungkan diri padanya. Sungai sepanjang 34,7 kilometer ini adalah tempat mandi yang menyegarkan dan saksi bisu keseharian warga, membentangkan keindahan alami yang tak ternilai harganya.
Namun, seiring waktu, tangan-tangan tak bertanggung jawab perlahan mengubah parasnya yang rupawan. Tumpukan sampah mulai memenuhi aliran, dibuang secara sembarangan dari jembatan, dilempar dari kendaraan yang melintas, bahkan menumpuk di area permukiman padat yang kian merapat di tepiannya. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan dan keindahan, kini terbebani oleh limbah domestik dan industri, menjadikannya saluran pembuangan semata.
Perahu-perahu tak lagi bisa melintas leluasa; air yang dulunya bening kini keruh, bahkan menebarkan bau tak sedap yang menyengat. Ironisnya, saat musim hujan tiba dan banjir melanda, seringkali sungai itu yang disalahkan. Padahal, yang berubah bukanlah sifat alaminya, bukan pula air yang mengalir, melainkan sikap penghuni bumi yang merampas ruang hidupnya. Manusia telah mengubah, mempersempit, dan mengotori badannya.
Bukan hanya sampah, intervensi lain seperti pelurusan alur, penyempitan sempadan, bahkan pembangunan struktur permanen di atas badan sungai, semakin memperparah kondisinya. Banyak yang lupa bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) bukan sekadar saluran air belaka, melainkan sebuah tubuh yang bernapas, memiliki ekosistem kompleks, dan menyimpan keseimbangan alam. Jika keseimbangan ini terganggu, alam akan merespons dengan caranya sendiri, seringkali melalui bencana yang merugikan manusia itu sendiri.
Di tengah kelalaian kolektif ini, muncul sosok Misman, seorang putra daerah kelahiran Samarinda pada 4 April 1959. Sebagai seorang wartawan senior, puluhan tahun ia mendedikasikan penanya untuk menyuarakan betapa berharganya Sungai Karang Mumus (SKM). Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha membangkitkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga “nadi” kota ini, mengisahkan keindahannya yang sirna dan bahaya dari degradasi lingkungan yang terus-menerus terjadi.
Namun, Misman menyadari bahwa kata-kata saja tak cukup untuk mengubah kebiasaan yang sudah mengakar. Warga tetap membuang sampah sembarangan, pembangunan tetap merapat ke alur air, dan kelalaian seringkali dibiarkan begitu saja. Akhirnya, pada Juli 2015, Misman mengambil keputusan besar: ia meninggalkan sebagian besar profesinya, mengesampingkan pena, dan beralih dari sekadar menulis. Dengan tekad bulat, ia mulai berjalan sendiri di sepanjang sungai, memunguti sampah helai demi helai, memulai sebuah aksi nyata yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Aksi tunggal Misman ini, meski terlihat kecil di awal, menjadi percikan api yang memantik kesadaran kolektif. Dari satu orang, kini ribuan pasang tangan mulai ikut bergerak. Komunitas dan berbagai elemen masyarakat bahu-membahu membersihkan dan merevitalisasi Karang Mumus. Kisah Misman adalah pengingat kuat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari keberanian satu individu yang menolak berdiam diri, menginspirasi banyak pihak untuk kembali merangkul dan menjaga warisan alam yang tak ternilai harganya demi masa depan Samarinda yang lebih bersih dan berkelanjutan.







