Peristiwa kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) liar di Desa Waringinkurung, Kabupaten Serang, Banten, akhirnya mulai menunjukkan tanda-tanda padam setelah berkobar sejak Jumat lalu. Petugas pemadam kebakaran bersama aparat kepolisian terus bersinergi melakukan proses pendinginan guna memastikan tidak ada lagi titik api yang tersembunyi di bawah tumpukan sampah.
Kabid Humas Polda Banten, Kombes Maruli Hutapea, mengonfirmasi bahwa situasi di lokasi kejadian kini berangsur kondusif. Meski api utama telah berhasil dikendalikan, kepulan asap tipis masih terlihat di beberapa titik area penimbunan sampah tersebut.
“Saat ini titik api terpantau sudah mulai padam. Langkah selanjutnya adalah melakukan penyisiran menyeluruh,” ujar Maruli saat memberikan keterangan kepada media.
Untuk memaksimalkan proses pemadaman, petugas mengerahkan alat berat berupa ekskavator guna mengurai tumpukan sampah yang menggunung. Metode ini dinilai efektif untuk membuka jalan bagi petugas pemadam kebakaran (damkar) dalam menyiram langsung bara api atau asap yang masih terjebak di lapisan bawah sampah.
Berdasarkan hasil pemetaan dan pendataan sementara di lapangan, luas area lahan yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 2.500 meter persegi. Terkait pemicu kebakaran, pihak kepolisian menegaskan masih melakukan penyelidikan mendalam dan belum bisa menyimpulkan penyebab pastinya.
Kronologi awal kejadian ini pertama kali dilaporkan oleh seorang warga setempat pada Jumat malam sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, warga yang baru saja pulang mencari rumput untuk pakan ternak melihat kobaran api membumbung tinggi dari area pembuangan sampah. Terkejut melihat insiden tersebut, saksi langsung melaporkannya ke Polsek Waringinkurung.
Kapolsek Waringinkurung, Iptu Hari Purwanto, menjelaskan bahwa lokasi TPA yang cukup terpencil dan jauh dari pemukiman padat penduduk sempat menyulitkan pemantauan awal. Sebagai informasi, area tersebut awalnya merupakan lahan bekas galian pembuatan batu bata merah yang kemudian beralih fungsi menjadi lokasi pembuangan sampah oleh masyarakat sekitar.
Penyelidikan intensif masih terus berjalan untuk mengetahui apakah ada unsur kelalaian atau faktor alam seperti cuaca panas ekstrem yang memicu terjadinya kebakaran di lahan bekas galian tersebut.








