Terobosan Ekonomi Kalbar: QRIS Antarnegara, Kunci Konektivitas Digital Lintas Batas

Pontianak, Kalimantan Barat – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Barat tengah gencar merangkai sebuah visi ambisius: menjadikan Bumi Khatulistiwa sebagai hub ekonomi digital yang terhubung kuat dengan negara tetangga melalui inovasi pembayaran QRIS Antarnegara. Inisiatif ini bukan sekadar tentang kemudahan transaksi, melainkan pondasi strategis untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi regional, membuka gerbang peluang bagi perdagangan, pariwisata, dan geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, menegaskan bahwa posisi geografis Kalbar yang berbatasan langsung dengan Malaysia adalah aset tak ternilai. “Sebagai daerah perbatasan, potensi adopsi QRIS Antarnegara sangat besar,” ujar Doni. Ia melihat penguatan transaksi digital lintas negara sebagai katalisator multifungsi, tidak hanya bagi sistem pembayaran itu sendiri, namun juga untuk mendongkrak sektor-sektor vital yang menopang kehidupan ekonomi masyarakat.

Untuk mewujudkan visi tersebut, BI Kalbar melahirkan program terpadu bernama QRIS Betang, singkatan dari “Bangun Ekosistem Transaksi Antar Negara”. QRIS Betang dirancang dengan tiga pilar utama yang saling bersinergi: QRIS Betang Perbatasan, QRIS Betang Perbankan, serta QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas.

Melalui pilar QRIS Betang Perbatasan, BI aktif mendorong digitalisasi pembayaran di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Program ini, yang sukses di PLBN Aruk, kini diperluas ke tiga PLBN strategis lainnya pada tahun 2026: Entikong, Badau, dan Jagoi Babang. Sasaran utamanya mencakup sektor pariwisata, perhotelan, hingga sentra kuliner di area perbatasan, memastikan wisatawan dan pelaku usaha dapat bertransaksi dengan lancar dan aman.

Sementara itu, QRIS Betang Perbankan fokus pada penguatan peran industri perbankan. BI mendorong bank-bank untuk memperluas jangkauan transaksi QRIS Antarnegara melalui edukasi komprehensif dan kompetisi transaksi inbound. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman para merchant mengenai mekanisme QRIS lintas batas yang efisien.

Pilar ketiga, QRIS Betang Kegiatan dan Komunitas, menggarisbawahi pentingnya kolaborasi multisectoral. Inisiatif ini melibatkan sinergi dengan perguruan tinggi (misalnya, melalui program Summer School lintas negara bersama Universitas Tanjungpura dan universitas dari Malaysia), pelaku pariwisata, pemerintah daerah, dan berbagai komunitas. Pendekatan ini memastikan ekosistem QRIS tumbuh secara organik dan inklusif.

Perkembangan ekosistem QRIS di Kalimantan Barat sendiri menunjukkan tren yang sangat positif. Hingga Juni 2026, jumlah merchant QRIS mencapai 552.673, melonjak 28,94 persen secara tahunan, dengan dominasi usaha mikro sebesar 74,17 persen. Nilai transaksi QRIS pun mencatat angka fantastis Rp6,5 triliun, tumbuh 112,04 persen, dengan volume transaksi mencapai 62,9 juta kali atau tumbuh 131,97 persen. Lebih dari 875.400 pengguna telah merasakan manfaat kemudahan ini.

Angka-angka ini menjadi modal berharga bagi Kalbar untuk terus memperluas pembayaran digital, tak hanya bagi transaksi lintas batas, tetapi juga mendukung mobilitas harian masyarakat dan turis mancanegara. Selain QRIS Antarnegara, BI Kalbar juga konsisten mengintegrasikan digitalisasi pembayaran di berbagai sektor lokal, seperti QRIS Tap pada transportasi darat DAMRI dan transportasi air sampan Bardan-Siantan, hingga perluasan di sektor ritel dan pariwisata.

Doni Septadijaya menutup dengan harapan besar: “Kami berharap QRIS Betang dapat menjadi gerakan bersama, bukan hanya inisiatif Bank Indonesia, tetapi juga kolaborasi erat dari pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, komunitas, perguruan tinggi, dan seluruh lapisan masyarakat.” Ini adalah ajakan untuk bersama-sama membangun masa depan ekonomi digital yang lebih cerah dan terhubung bagi Kalimantan Barat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *