Niat Rayakan HUT RI di Gunung Bawakaraeng, 8 Pendaki Dievakuasi Akibat Hipotermia dan Asma

Momen perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di puncak gunung selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam. Namun, nasib kurang beruntung dialami oleh delapan orang pendaki yang melakukan pendakian ke Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Niat mulia untuk mengibarkan bendera Merah Putih terpaksa tertahan setelah mereka mengalami gangguan kesehatan serius akibat cuaca ekstrem dan kelelahan.

Tim SAR Gabungan bergerak cepat melancarkan aksi penyelamatan setelah menerima laporan darurat dari jalur pendakian. Berdasarkan informasi dari Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, para pendaki yang dievakuasi tersebut menderita berbagai kondisi medis kritis, mulai dari serangan hipotermia parah, kram otot paha, kambuhnya penyakit asma, hingga indikasi gejala tifus akibat penurunan kondisi fisik yang drastis.

Read More

“Seluruh korban berhasil kita evakuasi dalam kondisi selamat menuju Posko Registrasi Bulu Balea. Dari sana, beberapa pendaki yang membutuhkan perawatan medis lanjutan langsung dirujuk ke Puskesmas Tinggimoncong,” ujar Muhammad Arif Anwar.

Antusiasme masyarakat untuk memperingati perayaan kemerdekaan di Gunung Bawakaraeng memang tergolong sangat tinggi. Data mencatat sebanyak 3.273 pendaki telah terdaftar secara resmi di berbagai jalur pendakian utama. Rinciannya meliputi 1.681 orang melalui jalur Bulu Balea, 947 orang dari jalur Tassoso, 422 orang lewat Kanreapia, serta 223 pendaki melalui titik Lembanna.

Mengantisipasi membludaknya jumlah pendaki serta potensi darurat di medan jelajah, Basarnas Makassar menerjunkan personel khusus yang disebar di delapan pos pemantauan strategis. Pos-pos tersebut mencakup Posko Lembanna, Posko Aju Bulu Balea, Pos 5, Pos 7, Pos 8, Lembah Ramma, jalur Tassoso, hingga area puncak Gunung Bawakaraeng. Penempatan ini bertujuan agar pertolongan darurat dapat diberikan secepat mungkin jika timbul situasi membahayakan.

Pihak Basarnas juga mengimbau seluruh pendaki untuk tidak memaksakan diri mencapai puncak demi ambisi pribadi. Faktor cuaca dingin, angin kencang, kelelahan fisik, hingga kepadatan jalur pendakian harus dikalkulasi secara matang sebelum melangkah. “Keselamatan jiwa harus selalu menjadi prioritas utama. Jangan sampai semangat mengibarkan Merah Putih justru mengabaikan keselamatan diri sendiri,” tegas Arif mengakhiri imbauannya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *