Pasar keuangan global kembali bergejolak. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun melesat menembus angka 5,48 persen, sebuah level yang tidak terlihat lagi sejak tahun 2004, atau dalam kurun waktu 22 tahun terakhir. Lonjakan ini bukan hanya sekadar catatan angka, melainkan cerminan dari tekanan jual obligasi yang massif secara global, dipicu oleh kekhawatiran yang terus membayangi: inflasi yang kian membandel, didorong oleh kenaikan biaya energi, serta resiliensi ekonomi AS yang mengejutkan di tengah peningkatan belanja pemerintah yang masif.
Kenaikan imbal hasil adalah indikasi langsung dari penurunan harga obligasi di pasar. Fenomena ini menjadi sorotan utama mengingat posisi obligasi Treasury AS sebagai pasar surat utang pemerintah terbesar dan paling berpengaruh di dunia. Investor kini mulai menatap level 6 persen untuk obligasi AS 10 tahun sebagai ambang batas kritis, yang berpotensi memicu tekanan baru yang signifikan bagi pasar keuangan dan korporasi di Negeri Paman Sam.
Tekanan ini tidak hanya berhenti di level institusional. Biaya pinjaman bagi konsumen pun mulai merasakan imbasnya. Suku bunga hipotek AS tenor 30 tahun, misalnya, kini bertengger di sekitar 7 persen. Angka ini sekitar 1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan periode sebelum konflik di Ukraina, sekaligus merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Situasi ini tentu saja akan berdampak langsung pada kemampuan daya beli dan sektor properti.
Menurut Gennadiy Goldberg, Kepala Strategi Suku Bunga AS di TD Securities, lonjakan yield sejak Maret lalu sebagian besar didorong oleh ekspektasi pasar terhadap langkah Federal Reserve (The Fed) yang akan terus memperketat kebijakan moneter. Ditambah lagi, ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak turut memperparah kondisi. Data aktivitas bisnis terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat, ditambah tekanan inflasi yang meningkat, memang kian memperbesar kemungkinan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan.
Fenomena ini bukan eksklusif AS. Negara-negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia lainnya juga menghadapi lonjakan biaya pembayaran bunga utang seiring dengan meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah. Di Jerman, misalnya, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat menyentuh 3,6 persen bulan ini, sebuah rekor dalam 17 tahun. Jepang pun tidak luput, dengan bunga obligasi pemerintah 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 1996.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, telah berupaya meredam kenaikan biaya utang melalui beberapa langkah, termasuk intervensi untuk membeli yen dan pertimbangan perluasan pembelian kembali surat utang pemerintah AS tenor 20 dan 30 tahun. Namun, langkah-langkah tersebut sejauh ini belum mampu menghentikan laju kenaikan imbal hasil. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, mengakui bahwa perekonomian AS menunjukkan “ketangguhan yang luar biasa”, sebuah kenyataan yang di satu sisi positif, namun di sisi lain turut mendorong ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi.
Pertanyaan besar yang kini menggantung adalah seberapa tinggi lagi imbal hasil ini dapat meroket. Dengan AS yang kini memiliki salah satu tingkat imbal hasil tertinggi di antara negara-negara anggota Kelompok Tujuh (G7), tantangan bagi stabilitas keuangan global kian nyata dan membutuhkan perhatian serius dari para pembuat kebijakan di seluruh dunia.








