Harga minyak global kembali menunjukkan taringnya, melonjak signifikan di awal pekan ini, mendekati level psikologis US$100 per barel. Kenaikan ini bukan semata-mata cerminan fundamental pasar yang berubah drastis, melainkan lebih sebagai respons volatil terhadap dinamika geopolitik yang memanas dan harapan tipis akan terbukanya jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November tercatat naik tipis 0,22 persen menjadi US$100,57 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober juga menguat ke US$95,8 per barel. Pergerakan ini, menurut Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, merupakan fenomena “short-covering” tipikal, di mana para pedagang yang sebelumnya mengambil posisi jual (bearish) kini mengurangi risiko mereka di tengah ketidakpastian.
Pusaran ketidakpastian diplomasi antara Washington dan Teheran menjadi katalis utama yang menjaga fluktuasi harga. Fokus perhatian tertuju pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, di mana potensi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mencuat. Trump secara terbuka menyatakan keterbukaannya untuk berdialog, sebuah sinyal yang, meski masih dibayangi keraguan, cukup untuk memicu spekulasi pasar. Namun, Teheran melalui pejabat keamanannya, Mohsen Rezaei, telah menegaskan sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi sebelum kembali ke meja perundingan, menunjukkan jalan diplomasi ini masih terjal dan penuh liku.
Waterer memproyeksikan harga minyak akan terus bergerak fluktuatif dan sangat sensitif terhadap setiap pemberitaan, hingga ada kejelasan substansial mengenai progres upaya diplomasi AS dan Iran. Para pelaku pasar seolah menahan napas, menunggu apakah dialog ini akan membuka jalan bagi de-eskalasi atau justru semakin memperdalam jurang ketegangan.
Di sisi lain, gejolak di Timur Tengah semakin memperkeruh gambaran pasokan global. Kelompok Houthi di Yaman dilaporkan kembali melancarkan serangan terhadap sasaran vital di Arab Saudi, termasuk Riyadh dan fasilitas kilang Saudi Aramco di wilayah Yanbu. Agresi ini tidak hanya mengancam infrastruktur minyak, tetapi juga berupaya memutus akses pasukan yang didukung Arab Saudi dari garis pantai Laut Merah, menambah lapisan kompleksitas pada krisis regional.
Serangan-serangan terhadap fasilitas East-West Pipeline berdampak langsung pada operasional, memaksa penghentian sebagian pengiriman minyak dari kilang Yanbu. Sebagai respons, Saudi Aramco dilaporkan meningkatkan ekspor melalui jalur Selat Hormuz, memuat sekitar 14 juta barel minyak mentah ke tujuh kapal supertanker di perairan Teluk. Insiden ini menyoroti kerapuhan rantai pasok energi global di tengah konflik berkepanjangan.
Situasi ini juga menarik perhatian kekuatan global. Tiongkok, dilaporkan secara diam-diam, mendesak Iran untuk membantu meredam serangan kelompok Houthi, sebuah langkah yang dilakukan menyusul permintaan langsung dari Arab Saudi. Intervensi Beijing ini menggarisbawahi kepentingan besar negara-negara konsumen energi dalam menjaga stabilitas pasokan dari kawasan krusial ini.
Tak hanya di Timur Tengah, ketidakpastian pasokan juga datang dari Afrika Utara. Chairman National Oil Corp (NOC) Libya, Massoud Suleman, melaporkan adanya penurunan parsial produksi di ladang minyak Sharara. Meskipun penyebab pasti gangguan ini belum dirinci, insiden di Libya menambah daftar faktor yang berpotensi menekan pasokan dan mendorong kenaikan harga minyak lebih lanjut. Kombinasi faktor diplomatik, geopolitik, dan operasional ini menciptakan lanskap pasar minyak yang sangat dinamis dan sulit diprediksi.








