Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, akhirnya buka suara terkait kontroversi buku berjudul “Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam”. Buku yang resmi diluncurkan pada akhir Agustus lalu ini mendadak viral dan memicu perdebatan hangat di jagat maya, terutama terkait pemilihan judul dan keterlibatan sejumlah tokoh besar nasional.
Yusril menegaskan bahwa dirinya tidak menulis langsung artikel yang mencantumkan namanya dalam buku tersebut. Kontribusinya murni berasal dari sesi wawancara yang dilakukan oleh tim penyusun jauh sebelum dirinya dilantik sebagai menteri di Kabinet Merah Putih. Ia juga mengaku baru membaca naskah utuh tersebut setelah buku tersebut resmi diterbitkan ke publik.
Klarifikasi Akademik dan Isi Buku
“Apa yang saya sampaikan dalam wawancara merupakan pandangan pribadi yang tentu saja bisa saya pertanggungjawabkan secara akademik,” ujar Yusril. Tulisan yang memuat pemikirannya berada di bagian awal buku dengan tajuk “Peduli Kepada Rakyat dan Keadilan”. Yusril mengaku cukup puas dengan hasil transkrip yang dinilainya mampu menuangkan gagasannya dengan sangat baik.
Meski demikian, Yusril membeberkan bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam penentuan judul buku yang kini menuai pro-kontra tersebut. Menurutnya, polemik ini terjadi karena kebiasaan masyarakat yang sering kali menilai sebuah karya hanya dari sampul atau judulnya saja tanpa membaca isinya secara mendalam. Ia menyarankan judul alternatif yang lebih netral seperti “Prabowo dan Islam” untuk menghindari salah tafsir.
Asal-Usul Proyek Buku
Terkait pencantuman namanya dalam klausa hak cipta, Yusril mengaku tidak mempermasalahkannya meski hal itu tidak dikomunikasikan sebelumnya. Buku format bunga rampai ini sendiri diinisiasi oleh Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama Ketua MUI KH Anwar Iskandar, serta menghadirkan sumbangsih pemikiran dari tokoh-tokoh penting lainnya seperti Abdul Mu’ti dan Asep Saifuddin Chalim.
Melalui klarifikasi ini, Yusril mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan membiasakan diri membaca secara utuh sebelum melayangkan kritik di media sosial.








