Warga Bandung Raya baru-baru ini dikejutkan oleh suara dentuman misterius yang menggema dari langit pada malam hari hingga menjelang subuh. Menanggapi kehebohan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung akhirnya angkat bicara. Berdasarkan hasil analisis mendalam, fenomena ini diidentifikasi sebagai skyquake atau dentuman langit, sebuah peristiwa alam yang hingga kini masih menyimpan banyak teka-teki ilmiah.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa pihaknya telah memeriksa seluruh instrumen pemantauan geofisika dan meteorologi. Pemeriksaan ini mencakup pemantauan aktivitas gempa bumi, sambaran petir, kondisi cuaca, hingga anomali magnet bumi. Hasilnya mengejutkan, karena tidak ditemukan adanya aktivitas seismik dari sesar aktif di sekitar Bandung, seperti Sesar Lembang atau Sesar Cimandiri. Cuaca di wilayah Bandung Raya pun terpantau sangat cerah pada saat kejadian.
Menariknya, instrumen BMKG justru menangkap adanya gangguan magnetik bumi dan konsentrasi petir yang sangat tinggi di kawasan Gunung Anak Krakatau, Banten. Namun, hipotesis bahwa suara bersumber dari erupsi Anak Krakatau diragukan. Logikanya, jika suara tersebut berasal dari Krakatau, warga di Banten, Jakarta, dan Bogor yang posisinya jauh lebih dekat seharusnya mendengar dentuman tersebut terlebih dahulu. Kenyataannya, fenomena ini hanya dilaporkan secara masif oleh warga di cekungan Bandung.
Sebagai penjelasan alternatif, muncul hipotesis ilmiah lain yang cukup mencengangkan. Para ahli menduga suara skyquake tersebut dipicu oleh fenomena pelepasan gas metana dari dasar cekungan eks-Danau Bandung Purba. Wilayah Bandung Raya memang dikenal berdiri di atas sisa-sisa danau purba raksasa. Pelepasan gas alam dalam volume besar ke atmosfer secara tiba-tiba diyakini dapat menciptakan efek suara dentuman keras.
Guna memastikan penyebab pastinya, BMKG berencana melakukan kajian lebih komprehensif bersama Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). BMKG juga mengimbau agar masyarakat Bandung tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh isu hoaks yang beredar di media sosial, serta terus memantau informasi valid melalui saluran resmi BMKG.








