Peristiwa memprihatinkan menimpa ratusan santri di Sidoarjo, Jawa Timur. Sebanyak 431 santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, diduga mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9). Kejadian luar biasa ini memicu reaksi cepat dari pihak berwenang hingga berujung pada penutupan sementara dapur penyedia makanan tersebut.
Gejala keracunan mulai dirasakan para santri beberapa jam setelah menyantap menu makan siang berupa nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis, dan apel. Salah satu santriwati melaporkan adanya rasa asam yang tidak wajar pada hidangan sayuran. Menjelang sore hari, keluhan mual, pusing, hingga tubuh lemas mulai meluas, memaksa pihak pesantren mengevakuasi ratusan santri ke delapan rumah sakit rujukan terdekat.
Kasus ini ternyata tidak hanya melanda Ponpes Manbaul Hikam. Mantan Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengonfirmasi bahwa terdapat total 19 lembaga pendidikan di wilayah Tanggulangin yang turut terdampak, mulai dari tingkat TK hingga SMA. Seluruh lembaga tersebut mendapatkan pasokan dari dapur yang sama, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah. Emil juga meluruskan rumor yang beredar dan menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Merespons kejadian ini, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara operasional SPPG Kalitengah. Dapur umum yang biasanya memproduksi hingga 2.800 porsi makanan per hari ini kini dijaga ketat untuk penyelidikan. Sampel makanan juga telah diserahkan kepada Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk uji laboratorium guna mengidentifikasi zat berbahaya atau bakteri penyebab keracunan.








