Upaya deteksi dini penyakit menular terus digalakkan di daerah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, melaporkan adanya 144 temuan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang periode Januari hingga Juni 2026. Temuan ini diperoleh melalui program skrining kesehatan secara proaktif yang menyasar berbagai lapisan masyarakat.
Dari keseluruhan temuan tersebut, warga pada kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun menjadi penyumbang porsi terbanyak. Jika dirinci berdasarkan jenis kelamin pada kelompok umur rentan ini, kaum pria mendominasi dengan 77 kasus, sementara kelompok perempuan mencatatkan 18 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih, mengungkapkan bahwa dari total 144 kasus, sebanyak 42 kasus teridentifikasi pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL), 5 kasus transgender, 5 pekerja seks perempuan, dan 1 kasus dari warga binaan pemasyarakatan.
Tak hanya pada populasi kunci, penularan virus juga teridentifikasi pada kelompok masyarakat umum dan populasi khusus. Tim medis menemukan 4 kasus pada ibu hamil serta 38 kasus pada penderita tuberkulosis (TBC). Adapun 49 kasus sisanya terungkap melalui pemeriksaan calon pengantin, pasien pra-operasi, dan masyarakat umum.
Mona menegaskan bahwa tingginya angka temuan ini tidak selalu berarti terjadi lonjakan penularan yang masif. Sebaliknya, hal ini menandakan bahwa jangkauan tes kesehatan semakin efektif, sehingga masyarakat yang terinfeksi dapat terdeteksi lebih awal sebelum kondisinya memburuk.
Sepanjang tahun 2026, Dinkes Cirebon menargetkan pemeriksaan HIV terhadap sekitar 52 ribu orang dari kelompok berisiko. Hingga pertengahan tahun, realisasi target tes telah mencapai sekitar 47 persen. Saat ini, layanan tes HIV sudah terintegrasi di 60 puskesmas dan seluruh rumah sakit di Cirebon, sedangkan akses pengobatan Antiretroviral (ARV) dapat diperoleh di 14 puskesmas dan 14 rumah sakit rujukan.
Pihak dinas kesehatan meminta masyarakat untuk menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penyintas HIV. Dukungan dari keluarga dan lingkungan sangat dibutuhkan agar para pasien termotivasi untuk terus menjalani konsumsi obat ARV secara teratur demi menjaga daya tahan tubuh mereka.








