PRETORIA – Hubungan diplomatik antara Rusia dan Afrika Selatan kini memasuki babak baru yang lebih solid dan strategis. Kedua negara secara tegas menyatakan kesepakatan untuk mengoordinasikan langkah di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) guna melawan politisasi isu Hak Asasi Manusia (HAM). Rusia dan Afrika Selatan menilai bahwa isu HAM dewasa ini kerap disalahgunakan oleh kekuatan global tertentu sebagai instrumen tekanan geopolitik dan alat persaingan internasional yang tidak sehat.
Komitmen bersama ini lahir dari pertemuan bilateral antara Direktur Departemen Kerja Sama Multilateral HAM Kementerian Luar Negeri Rusia, Grigory Lukiyantsev, dan Wakil Direktur Jenderal Tata Kelola Global dan Agenda Kontinental Afrika Selatan, Xolisa Mabhongo, di Pretoria.
Dalam keterangannya, Lukiyantsev menekankan pentingnya menjaga netralitas dan ketidakberpihakan lembaga-lembaga internasional. Ia menyerukan kepatuhan total terhadap Piagam PBB demi menghapus standar ganda yang sering kali menodai penilaian objektif terhadap situasi HAM di berbagai belahan dunia.
Selain menolak keras politisasi HAM, kedua negara berkomitmen memperkuat kerja sama dalam memerangi rasisme dan diskriminasi rasial secara global. Kerja sama ini diwujudkan melalui dukungan timbal balik terhadap berbagai inisiatif di PBB, termasuk persiapan menyambut peringatan ke-25 Konferensi Dunia Menentang Rasisme yang pernah digelar di Durban, Afrika Selatan.
Moskow dan Pretoria juga sepakat untuk memanfaatkan momentum penting tahun ini untuk menyuarakan keadilan, termasuk memperingati Perjanjian Internasional tentang HAM serta Deklarasi PBB tentang Hak atas Pembangunan. Langkah taktis ini diyakini mampu memperkuat posisi tawar negara-negara berkembang di panggung diplomasi internasional.
Pertemuan di Pretoria ini tidak hanya menegaskan kesamaan visi kedua negara, tetapi juga membuka peluang baru bagi penguatan kemitraan strategis Rusia dan Afrika Selatan di tingkat global guna menciptakan tatanan dunia yang lebih adil dan multipolar.








