Beijing — Pemerintah China secara resmi memperluas keterbukaan akses internasionalnya dengan memasukkan Kirgizstan dan Vietnam ke dalam program transit bebas visa 240 jam atau setara 10 hari. Kebijakan strategis ini menambah daftar negara yang memenuhi syarat menjadi 57 negara, sekaligus menegaskan upaya berkelanjutan Tiongkok dalam menggairahkan kembali sektor pariwisata global serta mempererat kerja sama bisnis antarnegara.
Berdasarkan pengumuman resmi dari Administrasi Imigrasi Nasional China (NIA), aturan baru ini mengizinkan warga negara Kirgizstan dan Vietnam yang memegang paspor biasa untuk melintas tanpa menggunakan visa, dengan syarat memiliki tiket perjalanan lanjutan yang terkonfirmasi menuju negara atau wilayah ketiga. Para pelancong dapat memanfaatkan fasilitas ini melalui 65 pintu masuk imigrasi utama yang tersebar di seluruh wilayah daratan China.
Tidak hanya program transit nasional, kemudahan signifikan juga diberikan untuk akses menuju Provinsi Hainan, kawasan destinasi wisata tropis di selatan China. Warga dari kedua negara tersebut kini berhak menikmati fasilitas bebas visa selama 30 hari saat berkunjung ke Hainan melalui seluruh pelabuhan terbuka di wilayah provinsi tersebut. Langkah penambahan ini secara otomatis memperluas daftar negara penerima kemudahan bebas visa Hainan menjadi 61 negara.
Otoritas imigrasi menjelaskan bahwa selama masa tinggal bebas visa tersebut, para pelancong diberikan kebebasan untuk menjalankan berbagai aktivitas non-permanen. Kegiatan yang diizinkan meliputi wisata liburan, perjalanan bisnis, kunjungan keluarga, hingga partisipasi dalam agenda pertukaran budaya. Kebijakan fleksibel ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan dan pelaku usaha dari kawasan Asia Tenggara serta Asia Tengah untuk mengeksplorasi potensi ekonomi dan budaya China.
Kendati demikian, NIA memberikan batasan tegas bahwa kemudahan transit ini tidak mencakup kegiatan jangka panjang seperti bekerja secara resmi, menempuh pendidikan atau studi, serta aktivitas jurnalistik. Bagi warga asing yang berencana melakukan aktivitas tersebut, mereka tetap diwajibkan mengajukan visa yang sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Langkah progresif ini memperlihatkan keseriusan Beijing dalam menyederhanakan regulasi imigrasi demi memfasilitasi arus pergerakan manusia secara internasional, sekaligus memperkuat konektivitas diplomasi dengan negara-negara tetangganya.








