Nagan Raya – Komitmen terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terus diperkuat oleh pelaku industri energi di Aceh. Sebagai langkah konkret mengantisipasi risiko keadaan darurat, PT Meulaboh Power Generation (MPG) sukses menggelar program Firefighter Training Class D. Pelatihan intensif ini bertujuan membekali para pekerja dengan keahlian taktis dalam penanggulangan kebakaran sejak dini di lingkungan operasional perusahaan di Nagan Raya.
Kegiatan edukatif ini melibatkan 24 karyawan terpilih yang merepresentasikan berbagai divisi penting perusahaan. Mulai dari departemen HSE (Health, Safety, and Environment), divisi operasional, pemeliharaan teknis, sumber daya manusia (HR/GA), hingga logistik dan keuangan turut ambil bagian. Pendekatan lintas sektoral ini sengaja diterapkan agar kesiapsiagaan terhadap bencana kebakaran menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya bertumpu pada tim penyelamat khusus.
Dalam pelaksanaannya, PT MPG berkolaborasi dengan enam narasumber kompeten yang terdiri dari praktisi keselamatan kerja profesional, perwakilan Dinas Pemadam Kebakaran setempat, serta jajaran pengawas dari Dinas Tenaga Kerja Provinsi Aceh. Sinergi ini memastikan materi yang disampaikan tidak hanya komprehensif secara teori, tetapi juga sesuai dengan standar regulasi ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.
Selama pelatihan, seluruh peserta dibekali pemahaman mendalam mengenai anatomi api, pengoperasian sistem proteksi kebakaran gedung, hingga tata cara evakuasi mandiri yang aman. Puncak dari program ini adalah sesi simulasi langsung pemadaman api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Melalui praktik lapangan ini, para karyawan dilatih untuk tetap tenang dan cekatan dalam mengambil tindakan pertama sebelum api menyebar luas.
Bagi PT MPG, sertifikasi dan pelatihan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan investasi vital untuk melindungi aset paling berharga, yaitu keselamatan jiwa pekerja. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang kokoh ini diharapkan mampu meminimalkan potensi downtime operasional, sekaligus menjamin pasokan energi dari pembangkit listrik tetap andal, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.








