Tentara Nasional Indonesia (TNI) bergerak cepat merespons bencana gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui sinergi lintas matra, TNI Angkatan Darat (TNI AD) dan Angkatan Laut (TNI AL) mengerahkan armada terbaiknya, termasuk kapal rumah sakit terapung dan lima Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), guna mempercepat proses evakuasi serta penyaluran bantuan logistik bagi para korban terdampak.
Langkah nyata TNI AD ditunjukkan dengan pemberangkatan Kapal ADRI XC II BM. Kapal ini bukan sekadar pengangkut logistik biasa, melainkan sebuah kapal rumah sakit terapung yang dilengkapi dengan ruang operasi modern dan peralatan medis mutakhir. Kehadiran kapal ini diharapkan mampu memberikan tindakan medis darurat secara cepat di lokasi bencana, termasuk prosedur bedah bagi korban yang membutuhkan.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa penanganan dampak gempa di NTT membutuhkan komitmen jangka panjang. Menurutnya, pemulihan pascabencana tidak bisa diselesaikan hanya dengan sekali pengiriman bantuan. Oleh karena itu, TNI AD berkomitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi kebutuhan warga hingga beberapa bulan ke depan.
“Kita harus memiliki napas panjang dalam menangani bencana ini. TNI AD akan terus mengevaluasi situasi selama dua hingga tiga bulan ke depan agar bantuan yang diberikan benar-benar tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujar Jenderal Maruli.
Selain pelayanan kesehatan, TNI AD juga memprioritaskan penyediaan akses air bersih secara berkelanjutan dengan mengirimkan 100 unit tandon air berkapasitas 1.200 liter. Berbagai logistik penting lainnya seperti ambulans, tenda pengungsian, bahan bakar, serta puluhan ton bahan pangan juga turut dikirimkan.
Di sisi lain, TNI AL memperkuat operasi kemanusiaan ini dengan memobilisasi lima KRI dan dua helikopter. KRI dr. Soeharso-990 telah berlayar menuju Reo Manggarai membawa ratusan personel Korps Marinir, tim medis, serta alat-alat berat seperti ekskavator dan truk tangki air. Sementara itu, KRI HIU-634 dan KRI Bung Hatta-370 dikerahkan untuk menjaga kelancaran jalur pasokan logistik antar-pulau.
Untuk menjangkau daerah terisolasi, Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) memaksimalkan helikopter Bell 412 guna mendistribusikan bahan pangan langsung ke titik-titik yang sulit diakses melalui jalur darat. Berdasarkan data BNPB, gempa bumi ini telah merenggut sedikitnya 71 korban jiwa, membuat percepatan penanganan medis dan pemulihan infrastruktur menjadi prioritas utama saat ini.








