Kabut Asap Karhutla Banjarbaru Memburuk, Jam Masuk Sekolah Kini Pukul 09.00 WITA

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kian mengkhawatirkan. Kabut asap tebal kini menyelimuti wilayah tersebut, mengganggu aktivitas warga hingga mengancam kesehatan anak-anak. Merespons situasi darurat ini, Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru mengambil langkah cepat dengan menggeser jam mulai kegiatan belajar mengajar guna melindungi para siswa dari paparan asap berbahaya di pagi hari.

Mulai Kamis (20/8), seluruh pelajar dari tingkat PAUD, TK, SD, hingga SMP di bawah naungan Disdik Banjarbaru baru akan memulai aktivitas persekolahan pada pukul 09.00 WITA. Keputusan ini tertuang resmi dalam Surat Edaran Nomor 400.35./1738/P.SMP/Disdik. Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, Abdul Basid, menjelaskan bahwa kebijakan penundaan ini bersifat fleksibel dan situasional, terutama untuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah dengan tingkat kepadatan kabut asap yang sangat parah.

Read More

“Kami memprioritaskan kesehatan dan keselamatan para peserta didik. Melalui penyesuaian jam masuk sekolah ini, kami berharap anak-anak tidak perlu menembus kabut asap tebal yang biasanya memuncak pada pagi hari,” ungkap Abdul Basid. Meski jam masuk siswa diundur, para guru dan tenaga kependidikan diimbau tetap hadir lebih awal sesuai jam kerja normal untuk memantau situasi lingkungan sekolah masing-masing.

Kondisi udara di Banjarbaru belakangan ini memang dilaporkan kian memburuk. Selain jarak pandang yang terbatas dan membahayakan pengendara, aroma menyengat dari sisa pembakaran hutan mulai memicu gangguan pernapasan, seperti batuk dan sesak napas. Para orang tua murid pun menyambut baik kebijakan ini, meski kecemasan terhadap kesehatan anak-anak mereka tetap tinggi. Penggunaan masker kini menjadi kewajiban mutlak saat beraktivitas di luar ruangan.

Pemerintah daerah terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Sinergi antara penanggulangan karhutla di lapangan dan adaptasi kebijakan di sektor pendidikan diharapkan mampu meminimalisasi dampak buruk bencana ekologis ini terhadap generasi muda di Banjarbaru.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *