Jakarta – Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengatasi kekeringan ekstrem melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menemui jalan buntu. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan bahwa teknologi rekayasa cuaca tersebut belum bisa direalisasikan akibat faktor alamiah, yakni tidak adanya awan potensial pembawa hujan di langit ibu kota.
Pramono menjelaskan bahwa dirinya telah berulang kali menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta untuk segera mengeksekusi modifikasi cuaca. Namun, kendala ilmiah yang mutlak tidak bisa dihindari menghalangi proses tersebut. Tanpa adanya awan hujan, teknologi penyemaian garam tidak akan memberikan hasil apa pun.
“Kami sudah berkali-kali memerintahkan BPBD untuk melakukan modifikasi cuaca. Namun kendalanya, sampai hari ini, awannya memang tidak ada,” ujar Pramono saat memberikan keterangan pers di Balai Kota Jakarta.
Sebagai langkah alternatif untuk meminimalkan dampak kemarau panjang, Pemprov DKI Jakarta mengoptimalkan armada Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar). Petugas Damkar dikerahkan untuk melakukan penyemprotan air di sejumlah titik protokol guna menekan polusi debu dan menurunkan suhu udara yang kian menyengat.
Langkah penyemprotan air oleh armada Damkar ini diharapkan dapat memberikan efek pendinginan sementara (cooling effect) di area-area publik yang padat aktivitas. Upaya taktis ini menjadi strategi darurat sembari menunggu kondisi atmosfer di atas langit Jakarta kembali kondusif untuk proses penyemaian.
Meskipun demikian, Pramono menegaskan bahwa pihaknya tidak menyerah dan akan terus memantau pergerakan awan. Begitu kondisi ilmiah memungkinkan dan awan pembawa hujan mulai terbentuk, operasi modifikasi cuaca akan langsung dilaksanakan demi membawa kesejukan bagi warga Jakarta.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lebih dari 70 persen wilayah Indonesia, termasuk DKI Jakarta, saat ini memang sedang dilanda puncak musim kemarau. BMKG memprediksi kondisi kering dan minim curah hujan ini masih akan berlangsung setidaknya hingga Oktober mendatang. Warga Jakarta pun diimbau untuk lebih bijak dan hemat dalam menggunakan pasokan air bersih.








