Jarak ribuan kilometer dari tanah air tidak menyurutkan semangat nasionalisme para Warga Negara Indonesia (WNI) di Kamerun. Kehangatan budaya Nusantara begitu terasa dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang digelar oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yaounde. Momen tahunan ini tidak hanya menjadi ajang upacara khidmat, tetapi juga obat penawar rindu bagi diaspora yang merindukan suasana kampung halaman.
Bagi Morissa, seorang WNI asal Makassar yang telah menetap di Kamerun sejak tahun 2001, perayaan kemerdekaan di luar negeri selalu menyajikan atmosfer emosional yang magis. Selain mempererat tali silaturahmi sesama warga Indonesia, acara ini menjadi kesempatannya untuk menikmati kembali aneka kuliner khas Nusantara yang sulit ditemui sehari-hari. Nostalgia cita rasa ini menjadi jembatan penghubung ingatan mereka ke tanah air.
Kemeriahan semakin memuncak dengan diadakannya berbagai lomba tradisional khas 17-an, seperti makan kerupuk hingga balap memindahkan air menggunakan terong. Tidak hanya diikuti oleh WNI, kemeriahan ini juga dihadiri oleh komunitas ASEAN dan para sahabat Indonesia (Friends of Indonesia) di Kamerun. Kehadiran mantan pesepakbola Kamerun legendaris, Simon Atangana, turut mencuri perhatian. Eks pemain PSIS Semarang yang fasih berbahasa Indonesia itu mengaku bahwa Indonesia akan selalu menjadi rumah kedua baginya, bahkan ia masih menyimpan bendera merah putih sejak membawa klubnya menjuarai Liga Indonesia musim 1998-1999.
Di balik kemeriahan tersebut, nilai-nilai kemanusiaan dan empati tetap dijunjung tinggi. Duta Besar RI untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, mengajak seluruh hadirin untuk mengheningkan cipta dan mengirimkan doa terbaik bagi para korban bencana gempa bumi yang melanda Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, persatuan dan kontribusi nyata untuk bangsa harus tetap menyala di mana pun WNI berada.
Selain upacara dan perlombaan, KBRI Yaounde juga meluncurkan program diplomasi kuliner bertajuk ‘Safari Kuliner Indonesia’ di Kampung Tsinga. Melalui kegiatan ini, masyarakat lokal Kamerun diajak langsung untuk melihat dan mempraktikkan pembuatan camilan populer Indonesia seperti bakwan, pisang goreng, dan singkong goreng. Dengan menggunakan bahan baku lokal yang mudah ditemukan, langkah kreatif ini berhasil mendekatkan budaya Indonesia hingga ke tingkat akar rumput di Afrika Tengah.








