Skandal ‘Hafalan Al-Qur’an Tukar Miras’ Guncang Publik, Newport Minta Maaf dan Hadapi Laporan Polisi

Jagad maya Tanah Air sempat dihebohkan dengan sebuah insiden kontroversial yang terjadi di festival musik The Sounds Project, Ancol, Jakarta Utara. Sebuah video viral merekam momen di mana seorang wanita membaca ayat suci Al-Qur’an sebagai imbalan untuk mendapatkan minuman keras dari sebuah booth promosi. Kejadian ini sontak memicu gelombang kemarahan publik dan kecaman luas, terutama dari kalangan umat Muslim, karena dianggap merendahkan nilai-nilai agama.

Menanggapi kegaduhan yang masif tersebut, manajemen Newport, sebagai produsen minuman beralkohol yang booth-nya menjadi lokasi kejadian, akhirnya angkat bicara. Melalui Direktur Handoko Sasongko, Newport menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh umat Muslim, tokoh agama, serta masyarakat Indonesia atas ketidaknyamanan, rasa terluka, dan kegaduhan yang timbul. Dalam keterangannya, Handoko Sasongko menegaskan bahwa aktivitas tersebut sama sekali bukan bagian dari program, konsep promosi, tantangan, maupun arahan yang dibuat atau direncanakan oleh pihak Newport.

Read More

Pihak Newport mengklaim bahwa insiden tersebut muncul secara spontan dari pengunjung di lokasi dan menyesali adanya kelalaian dalam pengawasan di lapangan. Kelalaian ini disinyalir menjadi celah yang memungkinkan terjadinya tindakan yang tidak selaras dengan nilai-nilai agama, keyakinan, budaya, dan adat istiadat yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Pernyataan ini sekaligus menjadi penekanan bahwa Newport sangat menghormati nilai-nilai agama dan sensitivitas yang hidup di tengah masyarakat majemuk Indonesia.

Kejadian viral ini tidak hanya berhenti pada permohonan maaf. Beberapa pihak, termasuk Asosiasi Lawyer Muslim Indonesia (ALMI) dan Tim Hukum Muslim, telah mengambil langkah serius dengan melaporkan insiden ini ke aparat kepolisian, yakni Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya. Ketua ALMI, Zainul Arifin, menyatakan bahwa perbuatan tersebut tidak bisa dianggap sebagai hiburan semata, melainkan telah masuk dalam ranah penistaan agama. Hal serupa diungkapkan oleh Advokat Muhammad Rizki dari Tim Hukum Muslim yang merasa tersinggung sebagai seorang Muslim. Laporan mereka ditujukan kepada berbagai pihak, mulai dari Event Organizer (EO) acara, produsen miras, dua orang MC yang terlibat, hingga wanita yang melafazkan Al-Qur’an demi miras tersebut.

Peristiwa ini menjadi refleksi mendalam bagi Newport untuk segera merumuskan standar operasional (SOP) yang lebih ketat, dengan menempatkan aspek kehormatan terhadap nilai religi, adat istiadat, serta etika kemasyarakatan sebagai landasan utama. Newport berkomitmen penuh untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak akan terulang di masa mendatang. Kontroversi ini mengingatkan semua pihak, terutama pelaku usaha, akan pentingnya memahami dan menghormati lanskap sosial dan keagamaan di Indonesia dalam setiap aktivitas promosi.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *