Indonesia mengakui UMKM sebagai jantung perekonomian nasional, sebuah sektor yang tidak hanya menopang jutaan keluarga tetapi juga menjadi mesin penggerak inovasi lokal. Di tengah dinamika ini, PT Pertamina (Persero) tampil sebagai katalisator utama, menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih kuat dan inklusif melalui program pembinaan UMKM yang terstruktur dan berkelanjutan.
Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), menjelaskan bahwa pendekatan Pertamina melampaui sekadar injeksi modal. “Kami memahami bahwa UMKM membutuhkan lebih dari sekadar pembiayaan,” ujarnya. “Pembinaan kami meliputi peningkatan kapasitas bisnis, pembukaan akses pasar domestik dan global, serta pembangunan jejaring usaha. Tujuannya adalah agar UMKM mampu bersaing secara global sambil menciptakan manfaat ekonomi berlipat ganda bagi komunitas sekitarnya.” Filosofi ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah untuk memperkuat kewirausahaan dan memperluas kesempatan ekonomi.
Meskipun UMKM menyumbang signifikan terhadap PDB nasional, mencapai 60,5 persen, dan menyerap 97 persen tenaga kerja, kontribusi mereka terhadap ekspor masih tertinggal di angka 15,7 persen. Inilah celah yang coba diisi Pertamina. Melalui program seperti UMK Academy, perusahaan BUMN ini membekali pelaku UMKM dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk inovasi, standarisasi produk, dan strategi pemasaran yang efektif di kancah internasional, mempersiapkan mereka untuk penetrasi pasar global.
Salah satu kisah sukses yang menonjol adalah Narita Shibori, UMKM fesyen asal Bandung yang didirikan oleh Anarita. Bermula dari skala rumahan dengan keterbatasan modal dan promosi, Narita Shibori menemukan titik balik setelah bergabung dengan program binaan Pertamina pada tahun 2019. Dukungan pembiayaan, pelatihan intensif, serta kesempatan berharga untuk berpartisipasi dalam pameran bergengsi seperti Inacraft, SMEXPO, hingga DMI Utrecht di Belanda pada tahun 2024, telah melambungkan omzet mereka hingga tiga kali lipat.
Lebih dari sekadar pertumbuhan bisnis, Narita Shibori juga merangkul prinsip keberlanjutan dan inklusivitas. Mereka menjalin kolaborasi erat dengan Rumah Hasanah, melibatkan 12 penyandang disabilitas dalam proses produksi. “Karya mereka layak dihargai,” kata Anarita, menegaskan bahwa pemberdayaan ini bukan sekadar filantropi, melainkan bagian integral dari membangun ekosistem usaha yang memberi ruang bagi lebih banyak orang untuk berkarya, berpenghasilan, dan tumbuh bersama. Ini adalah contoh nyata bagaimana dukungan korporasi dapat menciptakan dampak sosial-ekonomi yang mendalam, membuktikan bahwa bisnis dan keberdayaan dapat berjalan seiring, membangun fondasi ekonomi nasional yang lebih kokoh dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.




