Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Tangerang Alihkan Sekolah Tatap Muka ke PJJ

Pemerintah daerah di wilayah Tangerang akhirnya mengambil langkah preventif demi menjaga kesehatan para siswa. Menyusul sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten Tangerang resmi mengalihkan kegiatan belajar mengajar tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kebijakan darurat ini mulai diberlakukan sejak Senin hingga Rabu mendatang sebagai langkah antisipasi dampak buruk polusi udara akibat material vulkanik.

Keputusan ini terbilang cepat mengingat sebelumnya pihak otoritas sempat kukuh untuk mempertahankan pembelajaran secara luring. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Wahyudi Iskandar, menjelaskan bahwa skema PJJ ini merupakan tahap awal mitigasi bencana yang akan berlangsung selama tiga hari. Selama masa pembatasan ini, pihak sekolah diminta mengoptimalkan platform digital agar hak belajar siswa tetap terpenuhi dari rumah masing-masing.

Read More

‘Keselamatan peserta didik adalah prioritas utama kami. Melalui metode belajar dari rumah, kita dapat meminimalisasi aktivitas fisik anak-anak di luar ruangan selama ancaman abu vulkanik ini masih tinggi,’ ujar Wahyudi. Ia juga mengimbau para tenaga pendidik untuk aktif memberikan pendampingan belajar secara interaktif demi menjaga kualitas edukasi.

Langkah serupa juga diambil oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Supriyadi, menerbitkan surat edaran yang mewajibkan seluruh jenjang sekolah, mulai dari TK, SD, hingga SMP, menerapkan PJJ pada periode yang sama. Selain memindahkan kelas ke ranah daring, Supriyadi juga menginstruksikan penerapan protokol kesehatan ketat bagi warga sekolah yang masih harus beraktivitas di luar rumah.

Para kepala sekolah diimbau untuk memastikan kesiapan fasilitas kesehatan di lingkungan sekolah masing-masing. Beberapa poin krusial yang harus disiapkan antara lain ketersediaan air bersih yang tertutup rapat, fasilitas cuci tangan, masker pelindung, hingga obat tetes mata untuk mengantisipasi iritasi akibat debu vulkanik. Pihak sekolah juga diminta untuk terus memantau perkembangan situasi terkini melalui koordinasi cepat dengan BPBD dan BMKG setempat.

Langkah tanggap darurat ini diharapkan dapat meminimalkan risiko gangguan pernapasan (ISPA) dan masalah kesehatan mata pada anak-anak sekolah di Tangerang, sembari memastikan proses akademis tidak terganggu secara signifikan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *