Langkah waspada diambil para pelaku pasar modal menyusul bayang-bayang risiko stabilitas keamanan dalam negeri, yang akhirnya menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan Rabu sore, IHSG terkoreksi tajam sebesar 1,48 persen atau melemah 95,98 poin ke level 6.405,69. Setali tiga uang, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 1,46 persen ke posisi 632,55.
Pelemahan ini dipicu oleh sikap wait and see para investor terhadap situasi politik dan keamanan domestik. Salah satu fokus utama pasar adalah rencana aksi demonstrasi besar-besaran di depan Gedung DPR/MPR RI yang menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset. Pelaku pasar berharap aksi penyampaian pendapat tersebut dapat berjalan damai demi menjaga stabilitas fundamental ekonomi makro tetap kondusif.
Selain faktor keamanan, sentimen dari sektor moneter turut memengaruhi pergerakan indeks. Pasar tengah mencermati jalannya uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti. Arah kebijakan moneter baru, strategi pengendalian inflasi, serta stabilitas nilai tukar rupiah di bawah kepemimpinan baru sangat dinanti oleh pelaku pasar untuk menentukan arah investasi ke depan.
Di sisi lain, Fitch Ratings memberikan penilaian positif mengenai asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6,0 persen pada tahun 2027 yang dinilai lebih realistis. Namun, lembaga pemeringkat internasional tersebut juga mengingatkan adanya risiko ketidakpastian geopolitik global, fluktuasi harga minyak mentah, serta pentingnya kedisiplinan fiskal dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Secara sektoral, seluruh atau sebelas sektor di Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak memerah. Penurunan paling dalam dipimpin oleh sektor transportasi dan logistik yang anjlok hingga 4,04 persen, disusul oleh sektor energi sebesar 2,40 persen, dan sektor properti yang melemah 2,35 persen. Sepanjang hari, frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,48 juta kali dengan nilai transaksi mencapai Rp18,06 triliun.








