Pasca-bencana gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), penanganan korban tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik dan logistik. Menyadari pentingnya kesehatan mental generasi muda, personil Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengambil langkah cepat dengan menyelenggarakan program trauma healing bagi anak-anak di pengungsian.
Aksi kemanusiaan ini diinisiasi oleh Satuan Tugas (Satgas) SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT. Mereka menyambangi Posko Pengungsian Barangkolong yang terletak di Desa Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Di sana, keceriaan anak-anak yang sempat meredup akibat guncangan bencana berusaha dihidupkan kembali melalui berbagai aktivitas interaktif yang edukatif.
Komandan Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT, Kombes Pol. Hasripuddin, mengungkapkan bahwa pemulihan psikologis pasca-bencana adalah prioritas yang krusial, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak. Menurutnya, anak-anak membutuhkan perhatian khusus agar rasa cemas dan ketakutan mereka pasca-gempa bisa diredam, sehingga mereka dapat kembali merasa aman dan bersemangat.
“Penanganan pasca-bencana tidak boleh melupakan aspek psikologis. Melalui kegiatan trauma healing ini, kami berupaya menghadirkan kegembiraan sekaligus menyisipkan motivasi dan edukasi di tengah masa-masa sulit mereka,” ujar Hasripuddin.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari ini dipimpin langsung oleh AKP Roy Ronaldo Dansu selaku Komandan Kompi Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT. Sebanyak 10 personel Brimob dikerahkan untuk berinteraksi langsung dengan anak-anak pengungsi. Pendekatan persuasif dan bersahabat yang ditunjukkan para petugas berhasil mencairkan suasana sunyi di posko pengungsian menjadi penuh gelak tawa.
Kehadiran polisi di tengah para pengungsi disambut dengan sangat hangat oleh para orang tua. Mereka merasa terbantu karena anak-anak mereka mendapatkan hiburan yang mendidik sekaligus mengalihkan perhatian dari trauma akibat gempa. Senyuman yang kembali mengembang di wajah anak-anak pengungsi menjadi bukti keberhasilan langkah trauma healing ini, sekaligus menegaskan kehadiran Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat di masa krisis.








