Guna mengawal berbagai program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membutuhkan amunisi tambahan dalam struktur organisasinya. Saat ini, instansi pengawas tersebut dilaporkan masih mengalami kekurangan sekitar 4.000 personel untuk mencapai kualifikasi ideal dalam menjalankan fungsinya secara optimal di seluruh wilayah Indonesia.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengungkapkan bahwa ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang ada saat ini baru memenuhi sekitar 60 persen dari total kebutuhan nasional. Dari target ideal sebanyak 10.710 pegawai, BPOM saat ini hanya diperkuat oleh 6.431 personel. Padahal, beban kerja pengawasan semakin masif seiring dengan meluasnya jangkauan prioritas pembangunan pemerintah.
Tanggung jawab besar tersebut mencakup pengawasan ketat terhadap 32.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), 83.000 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta pendampingan langsung bagi 4,3 juta UMKM di seluruh Nusantara. Tak hanya di tingkat domestik, reputasi internasional BPOM sebagai WHO-Listed Authority juga menuntut standar pengawasan yang tinggi, salah satunya dalam menjamin kualitas sertifikasi ekspor rempah-rempah Indonesia ke Amerika Serikat.
Tantangan yang dihadapi BPOM kini kian kompleks seiring pesatnya era digitalisasi. Batas antarnegara yang semakin kabur memicu maraknya peredaran produk kosmetik, suplemen, dan obat ilegal secara daring. Sepanjang tahun lalu, BPOM mencatat telah mengidentifikasi setidaknya 1,3 juta tautan transaksi siber yang melanggar ketentuan hukum, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih cepat dan terukur.
Menghadapi dinamika tersebut, BPOM berkomitmen memperkuat tata kelola internal melalui akselerasi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) dan penerapan sistem meritokrasi berbasis transparansi. Kendati demikian, Taruna menegaskan bahwa integrasi teknologi hanyalah sarana pendukung untuk meningkatkan objektivitas penindakan. Kunci utama keberhasilan transformasi pengawasan obat dan makanan tetap terletak pada kapabilitas, integritas, serta kearifan para pemimpin SDM di dalamnya.








