Pemerintah Provinsi Riau bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bergerak cepat mengantisipasi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Langkah taktis ini diambil setelah sistem monitoring Dashboard Lancang Kuning (DLK) mendeteksi adanya lonjakan signifikan, yakni sebanyak 123 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai wilayah Bumi Lancang Kuning.
Guna memastikan kondisi riil di lapangan, patroli udara langsung digelar oleh jajaran Forkopimda. Pemantauan dari udara menjadi prioritas utama untuk memetakan sebaran titik api secara presisi dan memastikan kesiapan tim pemadam di darat. Langkah ini dipimpin langsung oleh Kapolda Riau bersama Plt Gubernur Riau SF Hariyanto, serta jajaran pimpinan TNI dan BPBD.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Akmadi, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah titik panas ini memerlukan respons cepat dan terkoordinasi. Berdasarkan data DLK terbaru, dari total 123 hotspot yang terdeteksi, mayoritas berada pada kategori sedang sebanyak 119 titik, tiga titik berkategori rendah, dan satu titik masuk dalam kategori tinggi yang perlu penanganan segera.
Wilayah Rawan yang Menjadi Fokus Utama
Dari hasil pemetaan udara, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, yakni mencapai 42 titik. Angka ini disusul oleh Kabupaten Siak dengan 34 titik, dan Indragiri Hilir (Inhil) sebanyak 25 titik panas. Sementara itu, wilayah lain seperti Pelalawan, Kampar, Kuantan Singingi, Kepulauan Meranti, Bengkalis, dan Kota Dumai juga turut menyumbang sebaran hotspot dengan intensitas yang lebih rendah.
Polda Riau menekankan bahwa keberadaan hotspot belum tentu merupakan kebakaran aktif (fire spot). Oleh karena itu, petugas di tingkat kewilayahan telah diinstruksikan untuk segera melakukan verifikasi langsung ke lokasi atau ground check. Jika ditemukan adanya bara api aktif, petugas akan langsung melakukan pemadaman dini atau pendinginan.
Sinergi kuat antara TNI, Polri, BPBD, dan pemerintah daerah diharapkan mampu menekan potensi kebakaran hutan skala besar di Riau. Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, demi mencegah bencana kabut asap yang dapat merugikan kesehatan dan perekonomian daerah.

