Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dengan tegas membantah isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang belakangan santer terdengar di ranah publik dan media sosial. Pernyataan ini disampaikan Bahlil di tengah pelantikan pengurus DPD I Golkar Maluku, menegaskan bahwa narasi Munaslub adalah bagian dari upaya sistematis untuk menggerus legitimasi dan stabilitas partai beringin.
“Isu ini bukan sekadar rumor biasa, melainkan sebuah narasi murahan yang dirancang untuk menciptakan kegaduhan dan perpecahan di internal Golkar,” ujar Bahlil, sembari menyinggung beredarnya flyer-flyer hoaks yang masif di berbagai platform digital. Menurutnya, pihak-pihak di balik isu ini memiliki agenda politik tersembunyi yang berupaya memecah belah kekuatan partai menjelang kontestasi politik penting.
Isu Munaslub ini menguat seiring dengan narasi yang menyebutkan bahwa tujuannya adalah untuk ‘menyelamatkan Golkar dari Gank Solo’, sebuah terminologi yang kerap diasosiasikan dengan kelompok politik tertentu yang memiliki pengaruh signifikan. Bahlil menilai, penggunaan frasa tersebut hanyalah kedok untuk tujuan yang lebih destruktif. “Ini adalah manuver politik ‘abu lekke’ kelas tinggi. Saya tahu siapa di balik ini semua, dan jangan kira kami tidak memahami pola-pola seperti ini,” tegasnya, menyoroti adanya orkestrasi di balik isu tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Bahlil juga menekankan prinsip loyalitas sebagai landasan utama dalam berorganisasi dan berpolitik, sebuah nilai yang ia klaim melekat kuat pada karakteristik masyarakat Indonesia Timur. “Saya tidak akan pernah menjadi pengkhianat. Kesetiaan terhadap atasan dan perjuangan partai adalah harga mati bagi saya,” paparnya, memberikan sinyal kuat tentang komitmennya terhadap kepemimpinan dan arah partai saat ini.
Kuatnya isu Munaslub di media sosial, lengkap dengan flyer yang memprovokasi, menciptakan gelombang spekulasi tentang adanya keretakan di tubuh Golkar. Lebih lanjut, rumor ini juga muncul bersamaan dengan dugaan kasus penyadapan yang melibatkan sejumlah nama besar, termasuk mantan Kapolri, Jenderal (Purn.) Listyo Sigit Prabowo. Konteks ini semakin memperkeruh atmosfer politik nasional, menempatkan Golkar di tengah pusaran intrik yang kompleks.
Situasi ini menghadirkan tantangan serius bagi Partai Golkar untuk menjaga soliditas internal dan fokus pada agenda-agenda strategis. Pernyataan tegas Bahlil diharapkan mampu meredam gejolak dan mengembalikan fokus partai pada persiapan menghadapi dinamika politik yang semakin ketat, sembari tetap mewaspadai upaya-upaya penggembosan dari pihak luar.







