Kabar duka menyelimuti Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, setelah Nakla Syafira, seorang balita berusia satu tahun, menghembuskan napas terakhirnya usai menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Andi Sulthan Daeng Raja. Kematian Nakla menjadi sorotan publik dan viral di berbagai platform media sosial, memicu diskusi mendalam mengenai kondisi kesehatan anak dan realitas sosial-ekonomi.
Peristiwa tragis ini bermula dari kondisi Nakla yang kritis setelah dikabarkan tidak mendapatkan asupan makanan dan susu selama kurang lebih sepuluh hari akibat suatu penyakit. Meski telah dirawat selama sembilan hari di ruang ICU rumah sakit, nyawa Nakla tidak dapat tertolong, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan menyisakan pertanyaan besar di benak masyarakat.
Nakla diasuh oleh sang nenek, yang dikenal hidup dalam keterbatasan ekonomi. Sehari-hari, sang nenek berjuang memenuhi kebutuhan dengan mencari kerang atau sisa gabah pasca-panen untuk dikeringkan dan dijual. Ibunda Nakla sendiri telah meninggal dunia beberapa hari setelah kelahirannya, sementara sang ayah bekerja di luar Bulukumba. Kondisi ini menggambarkan lapisan kerentanan yang kompleks di balik peristiwa yang terjadi.
Rahmi Amrahi, Ketua RW setempat, menjadi salah satu pihak yang paling sigap memberikan pertolongan. Beliau mengungkapkan bahwa bantuan makanan dari Bulog telah disalurkan kepada keluarga, namun Nakla tidak dapat mengonsumsinya karena kondisi sakitnya yang parah, disertai demam dan kejang. Saat neneknya tak lagi sanggup mengatasi, Rahmi bergegas membawa Nakla ke rumah sakit, berupaya keras agar balita itu segera mendapatkan penanganan medis.
Di tengah perdebatan publik, Kepala Bidang Humas Dinas Komunikasi dan Informatika Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad, menegaskan bahwa kasus Nakla bukanlah murni persoalan ekonomi. Menurut keterangannya, meski keluarga sang nenek tergolong tidak mampu, Nakla tidak dapat makan atau minum susu karena sakit. Informasi dari neneknya menyebutkan bahwa kondisi ini berawal setelah Nakla pernah terjatuh, yang kemudian menyebabkan kesulitan dalam menerima asupan gizi.
Viralnya kisah Nakla di media sosial juga menyisakan dampak tersendiri. Ayah Nakla, yang selama ini bekerja jauh dari Bulukumba, merasa keberatan dengan sorotan publik yang cenderung menyudutkannya, seolah-olah ia dianggap tidak mampu menafkahi anaknya. Kasus Nakla Syafira menjadi cerminan bahwa sebuah tragedi kemanusiaan seringkali berakar pada jalinan kompleks antara faktor kesehatan, keterbatasan ekonomi, dukungan komunitas, dan persepsi publik yang terkadang bias. Penting bagi semua pihak untuk melihat kasus ini secara menyeluruh, bukan sekadar menyalahkan, melainkan mencari akar permasalahan dan solusi jangka panjang untuk mencegah terulangnya kisah pilu serupa.








