IHSG Mengawali Oktober dengan Koreksi: Menganalisis Arah Pasar di Tengah Gejolak Global

Jakarta, KotaKita – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali bulan Oktober dengan performa yang kurang menggembirakan. Pada penutupan pekan pertama Oktober, indeks kebanggaan bursa Tanah Air ini tergelincir 1,02 persen ke level 6.009, melanjutkan tren pelemahan yang dominan sepanjang pekan tersebut. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, dalam sepekan terakhir, IHSG hanya mampu menguat satu hari, sementara empat hari lainnya ditutup melemah signifikan, merefleksikan penurunan akumulatif sebesar 3,28 persen.

Pelemahan ini bukan tanpa sebab. Aktivitas transaksi di pasar mencatat nilai sebesar Rp11,06 triliun dengan volume perdagangan mencapai 32,94 miliar saham. Sekretaris Perusahaan BEI, Elsierra Putri Yosita, mengungkapkan bahwa meskipun rata-rata volume dan nilai transaksi harian menunjukkan peningkatan masing-masing sebesar 72,51 persen dan 5,40 persen, kapitalisasi pasar bursa justru menciut 2,55 persen dari Rp10.905 triliun menjadi Rp10.627 triliun. Ironisnya, frekuensi transaksi harian turut menurun 7,54 persen.

Read More

Sentimen negatif semakin diperparah oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing. Pada penutupan pekan, investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,27 triliun. Tren ini seolah menegaskan kekhawatiran yang sudah berlangsung lama, dengan total net sell investor asing sepanjang tahun 2026 yang telah menembus angka Rp82,55 triliun, bahkan mencapai sekitar Rp108 triliun di pasar reguler secara year-to-date.

Menilik prospek pergerakan IHSG ke depan, analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan indeks masih rentan melanjutkan koreksi. Ia memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang level support 5.839 dan resistance 6.212. Herditya menyoroti rilis data nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS) sebagai katalis utama. Data tenaga kerja AS yang kuat berpotensi memicu kembali kekhawatiran terhadap sikap hawkish The Fed, yang pada gilirannya dapat mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury (UST) dan penguatan nilai tukar dolar AS secara global.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menambahkan bahwa tekanan terhadap IHSG saat ini bersifat multi-faktorial. Berbeda dari siklus historis di mana paruh kedua tahun sering menjadi periode positif bagi pasar saham, tahun ini pasar dihadapkan pada kombinasi tekanan global dan domestik. Tingginya imbal hasil UST dan penguatan dolar AS menjadikan aset berbasis dolar tetap menarik, sementara rupiah yang berada di kisaran Rp17.888 per dolar AS semakin mendekati level psikologis Rp18 ribu, menambah kekhawatiran akan stabilitas mata uang domestik.

Meskipun demikian, beberapa katalis positif tetap terlihat di horizon, seperti potensi perbaikan konsumsi domestik, belanja pemerintah, laporan kinerja emiten kuartal III, kebijakan pro-pertumbuhan, serta peluang pelonggaran moneter jika tekanan terhadap rupiah mereda. Namun, katalis-katalis ini masih harus berhadapan dengan tembok tinggi imbal hasil UST, penguatan dolar AS, risiko geopolitik, fluktuasi harga minyak dunia, dan berlanjutnya aksi jual bersih investor asing.

Dalam kondisi yang penuh tantangan ini, sejumlah analis merekomendasikan saham-saham pilihan yang dinilai memiliki potensi untuk dicermati. Herditya Wicaksana menyarankan untuk melirik saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) dengan proyeksi target 18.250, PT Indosat Tbk (ISAT) dengan target 2.480, dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) dengan target 905. Sementara itu, Hendra Wardana merekomendasikan PT Antam (Persero) Tbk (ANTM) dengan target 3.350, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) dengan target 4.900, serta PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dengan target 1.800.

Catatan Redaksi: Berita ini bertujuan sebagai analisis informasi pasar dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca dengan pertimbangan dan riset mendalam.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *