Gejolak Harga Cabai di Makassar: Inflasi Hortikultura Mencekik Daya Beli Warga

Warga Kota Makassar kembali dihadapkan pada realitas pahit gejolak harga komoditas pangan. Kali ini, si ‘merah pedas’ cabai menjadi biang kerok inflasi lokal, dengan lonjakan harga yang signifikan dan mengkhawatirkan. Di pasar-pasar tradisional jantung Sulawesi Selatan, harga cabai rawit telah menembus angka fantastis hingga Rp85.000 per kilogram, sebuah kenaikan tajam yang dirasakan langsung oleh setiap rumah tangga.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) setempat tak tinggal diam. Dari hasil pemantauan intensif di dua sentra perdagangan utama, Pasar Terong dan Pasar Pa’baeng-baeng, terungkap bahwa harga cabai rawit melonjak drastis dari rata-rata Rp50.000 menjadi Rp70.000 hingga Rp85.000 per kilogram. Lonjakan ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga memberikan tekanan serius pada anggaran belanja masyarakat, khususnya para pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada bumbu dapur esensial ini.

Read More

Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, menyoroti bahwa fluktuasi harga cabai memang sangat ekstrem. “Kenaikan harga cabai kali ini cukup signifikan. Angka Rp85.000 ini jauh di atas harga normal yang biasanya tidak lebih dari Rp50.000,” ujar Ilyas, merujuk pada dinamika pasar yang seringkali sulit diprediksi.

Analisis mendalam mengungkap bahwa akar permasalahan terletak pada kondisi di tingkat petani. Data menunjukkan bahwa harga beli cabai dari petani saat ini berada di kisaran Rp65.000-Rp70.000 per kilogram. Disparitas antara harga di tingkat petani dan harga eceran di pasar mengindikasikan adanya tantangan dalam rantai distribusi atau margin keuntungan yang diambil oleh para pedagang.

Lebih jauh, faktor alam menjadi kontributor utama terhadap kelangkaan pasokan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, ditambah dengan fenomena kekeringan yang melanda beberapa wilayah sentra produksi, telah berdampak serius pada volume panen. Penurunan produksi ini secara langsung mengurangi ketersediaan cabai di pasar, yang pada akhirnya memicu hukum ekonomi dasar: ketika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga akan melambung.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, Aryanto, menegaskan bahwa komoditas hortikultura memang sangat rentan terhadap kondisi alam. “Cabai adalah komoditas yang sangat volatil. Harganya bisa melonjak tinggi dalam sekejap, namun juga bisa anjlok drastis,” jelas Aryanto, menggarisbawahi sifat tidak stabil komoditas ini yang selalu menjadi tantangan dalam upaya stabilisasi harga. Fluktuasi semacam ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi TPID dalam menjaga stabilitas inflasi daerah.

Kontras dengan gejolak harga cabai, beberapa komoditas pangan pokok lainnya seperti beras dan minyak goreng terpantau relatif stabil. Kondisi ini mencerminkan keberhasilan intervensi dan kebijakan pemerintah dalam menjaga ketersediaan serta harga komoditas yang menjadi kebutuhan dasar mayoritas penduduk. Namun, stabilitas ini tidak sepenuhnya menutupi kekhawatiran terhadap inflasi secara keseluruhan, mengingat dampak besar yang ditimbulkan oleh kenaikan harga komoditas strategis seperti cabai.

Pemerintah daerah dan TPID di Makassar dituntut untuk terus memonitor ketat pergerakan harga dan mencari solusi jangka pendek maupun panjang. Operasi pasar yang digalakkan diharapkan dapat sedikit meredakan tekanan, namun solusi fundamental seperti diversifikasi sentra produksi, peningkatan efisiensi rantai pasok, dan dukungan bagi petani dalam menghadapi perubahan iklim menjadi krusial untuk mencegah terulangnya episode harga cabai yang ‘ngegas’ di masa mendatang.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *