Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Gunung berapi aktif yang kini menyandang status Siaga (Level III) tersebut dilaporkan terus meluncurkan material vulkanik, bahkan sempat merusak kamera pemantau di dekat puncaknya. Merespons situasi darurat ini, TNI Angkatan Laut mengerahkan kapal perang untuk memantau situasi secara langsung dari jarak aman terdekat.
KRI Lepu 861, yang sedang menjalankan operasi di bawah kendali Guspurla Koarmada I, dikerahkan untuk mendekati kawasan rawan tersebut sebelum bersandar di Pelabuhan Panjang, Lampung. Berdasarkan hasil pantauan visual dari kapal patroli cepat tersebut, kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau diselimuti kabut tebal dengan jarak pandang yang sangat terbatas, yakni hanya sekitar 3 mil laut (Nm). Selain itu, sebaran abu vulkanik masih terdeteksi pada jarak 6 mil laut dengan ketinggian gelombang laut berkisar antara 0,5 hingga 1 meter.
Pihak Lanal Lampung melaporkan bahwa semburan abu vulkanik dan hujan debu dari aktivitas erupsi ini berpotensi tinggi menjadi ancaman navigasi yang serius bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda. Tingkat bahaya ini sangat bergantung pada arah dan kecepatan angin yang membawa material abu tersebut. Guna mengantisipasi dampak buruk, Lanal Lampung terus bersinergi dan bertukar informasi secara intensif dengan BPBD, Basarnas, serta instansi terkait lainnya dalam forum aksi tanggap darurat bencana.
Sementara itu, berdasarkan data dari sistem Magma Kementerian ESDM, Gunung Anak Krakatau dilaporkan kembali mengalami rentetan erupsi beruntun sejak dini hari hingga pagi. Seismograf mencatat aktivitas gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 48 mm dan durasi berkisar antara 10 hingga 19 detik. Meskipun visual letusan sering kali tertutup kabut tebal, instrumen pendeteksi menunjukkan aktivitas magmatik di bawah permukaan masih sangat aktif.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menegaskan bahwa meski intensitas letusan menerus sempat mereda, potensi terjadinya erupsi susulan masih sangat tinggi. Oleh karena itu, masyarakat, nelayan, dan pelaku pelayaran diimbau untuk mematuhi rekomendasi jarak aman dan tidak mendekati kawah aktif dalam radius yang telah ditentukan.








