Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali memicu dampak besar pada sektor transportasi udara nasional. Ribuan calon penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang, terpaksa gigit jari setelah sebanyak 209 jadwal penerbangan dilaporkan mengalami gangguan parah akibat sebaran abu vulkanik yang dinilai sangat membahayakan keselamatan penerbangan.
Pihak otoritas penerbangan terpaksa memperpanjang masa penutupan operasional bandara hingga Minggu (6/9) pukul 13.30 WIB. Langkah darurat ini diambil setelah hasil pemantauan visual dan radar menunjukkan ruang udara di sekitar bandara masih diselimuti partikel abu vulkanik tajam yang berpotensi merusak mesin pesawat secara fatal jika dipaksakan terbang.
Akibat penundaan dan pembatalan massal ini, penumpukan penumpang di area terminal Bandara Soekarno-Hatta tidak dapat dihindarkan. Suasana di terminal keberangkatan tampak padat merayap, di mana area kursi tunggu hingga konter check-in dipenuhi oleh calon penumpang yang mengantre untuk mencari kejelasan informasi. Sebagian besar penumpang terpaksa telantar dan beristirahat di lantai bandara dengan membawa barang bawaan mereka.
Dampak dari bencana alam ini tidak hanya dirasakan di rute domestik utama, seperti pembatalan sembilan jadwal penerbangan menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), tetapi juga berdampak pada jaringan internasional. Dilaporkan, sejumlah besar Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang melakukan perjalanan dari luar negeri kini tertahan di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dihentikan sementara waktu.
Untuk meminimalisir kerugian, pihak maskapai kini tengah mengupayakan opsi pengembalian dana penuh (refund) serta penjadwalan ulang (reschedule) tanpa biaya tambahan bagi penumpang yang terdampak langsung oleh situasi darurat ini. Pihak pengelola bandara bersama maskapai penerbangan mengimbau agar seluruh calon penumpang terus memantau status penerbangan mereka secara berkala melalui aplikasi resmi guna menghindari penumpukan yang lebih parah di area bandara.








