Erupsi Gunung Anak Krakatau Rusak Kamera Pemantau, Warga Diimbau Waspada Radius 3 Km

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat secara signifikan sejak Jumat malam. Erupsi yang disertai muntahan material panas dilaporkan telah merusak kamera pengawas (CCTV) yang dipasang di area dekat kawah aktif. Akibatnya, pemantauan visual real-time melalui kamera tersebut kini terganggu.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa CCTV pemantau di lapangan tidak lagi berfungsi setelah terkena hantaman material vulkanik pijar. Sebelum mengalami kerusakan, kamera tersebut sempat mengabadikan momen langka fenomena lava fountain atau air mancur lava yang sangat fluktuatif pada Sabtu dini hari.

Read More

Selain merusak alat pemantau, letusan ini juga memicu suara dentuman keras dan gemuruh yang terdengar jelas hingga ke Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran. Berdasarkan catatan seismik, erupsi ini memiliki amplitudo mencapai 70 milimeter dengan durasi gempa letusan yang cukup panjang.

Terkait kekhawatiran masyarakat pesisir Banten dan Lampung akan ancaman tsunami seperti bencana tahun 2018 silam, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan penjelasan penenang. Menurut evaluasi tim ahli, volume tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini masih relatif kecil. Dengan kondisi tersebut, potensi terjadinya longsoran besar di bawah laut yang dapat memicu gelombang tsunami dinilai sangat minim.

Saat ini, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Pihak berwenang mengeluarkan rekomendasi ketat agar masyarakat, wisatawan, maupun nelayan tidak mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif untuk menghindari bahaya lontaran material pijar yang mematikan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak mudah panik dan tidak menyebarkan isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya. Pemerintah daerah juga diminta untuk memperketat patroli di sekitar wilayah terdampak demi memastikan tidak ada aktivitas warga di zona bahaya demi keselamatan bersama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *