Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dicanangkan pemerintah kini menghadapi tantangan berat. Dalam sepekan terakhir, gelombang dugaan keracunan makanan massal dilaporkan terjadi di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sidoarjo, Rembang, Nganjuk, Tana Toraja, hingga Agam di Sumatra Barat. Ratusan pelajar dan santri dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis darurat setelah mengonsumsi menu yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di Sidoarjo, Jawa Timur, jumlah korban yang terdampak menjadi yang terbesar, mencapai 730 orang yang terdiri dari santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam dan murid dari 19 sekolah lainnya. Mereka mengeluhkan gejala mual, pusing, hingga muntah usai menyantap hidangan berupa nasi, telur orak-arik, tempe bali, dan tumis buncis. Berdasarkan investigasi awal, keterlambatan waktu distribusi serta tidak adanya label jam matang makanan pada kemasan diduga kuat menjadi pemicu utama rusaknya kualitas makanan.
Kondisi serupa terjadi di Rembang, Jawa Tengah, di mana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMAN 1 Lasem lumpuh total setelah 725 siswa dan 25 guru mengalami diare massal. Fakta mengejutkan terungkap bahwa hidangan ayam bakar yang dikonsumsi rupanya telah dimasak sejak pukul 03.00 WIB dini hari, namun baru dikonsumsi pada siang hari pukul 12.00 WIB tanpa penanganan suhu yang tepat.
Sementara itu, di wilayah Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 136 siswa dilarikan ke beberapa rumah sakit akibat gejala serupa. Di Agam, Sumatra Barat, angka korban tidak kalah mencengangkan dengan laporan 334 warga dari tiga nagari yang harus menjalani perawatan medis setelah mengonsumsi menu MBG.
Merespons krisis ini, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyatakan keprihatinan yang mendalam dan menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem tata kelola, standar operasional prosedur (SOP) memasak, hingga rantai distribusi makanan. BGN juga telah menghentikan sementara operasional dapur SPPG yang bermasalah sembari menunggu hasil uji laboratorium.
Langkah hukum kini tengah berjalan, dengan beberapa kasus dilaporkan telah memasuki tahap penyidikan oleh aparat penegak hukum guna menentukan ada tidaknya unsur kelalaian pidana dalam insiden fatal ini.








