Kasus dugaan keracunan makanan kembali menyita perhatian publik. Kali ini, sebanyak 80 siswa dari SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, harus dilarikan ke sejumlah rumah sakit terdekat. Peristiwa ini terjadi setelah mereka mengonsumsi hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan sehari sebelumnya.
Menurut keterangan salah satu orang tua siswa, gejala sakit mulai dirasakan para murid pada malam hari setelah mengonsumsi menu MBG yang terdiri dari nasi, lauk ayam, sayur, tempe, serta buah melon. Keesokan harinya, saat hendak bersekolah, barulah diketahui bahwa puluhan siswa lainnya mengalami keluhan serupa hingga membutuhkan penanganan medis segera di tiga rumah sakit berbeda.
Menanggapi kejadian ini, Sekretaris Daerah Tana Toraja sekaligus Ketua Satgas MBG, Rudy Andi Lolo, mengimbau masyarakat untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan investigasi mendalam dan belum menetapkan peristiwa ini murni sebagai keracunan massal akibat program pangan tersebut.
“Kami belum bisa memastikan bahwa ini adalah keracunan makanan dari program MBG. Penyelidikan medis komprehensif masih terus berjalan untuk membuktikan penyebab utamanya,” ujar Rudy.
Rudy menambahkan, pada hari saat keluhan massal itu muncul, menu makanan untuk hari itu bahkan belum sempat dibagikan kepada para siswa. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa ada faktor eksternal lain yang mungkin menjadi pemicu, seperti makanan yang dikonsumsi di rumah atau kualitas air minum harian siswa.
Guna mengungkap tabir penyebab gangguan kesehatan ini, Satgas MBG bersama dinas kesehatan setempat telah mengamankan sampel sisa makanan serta sampel biologis dari para siswa untuk diuji di laboratorium. Langkah ini dinilai sangat krusial agar hasil diagnosis bersifat akurat dan berbasis data ilmiah.
Lebih lanjut, pihak Satgas juga menyoroti adanya jeda waktu yang cukup lama, yakni lebih dari 12 jam, antara waktu konsumsi makanan program dengan munculnya gejala klinis pada siswa. Secara medis, masa inkubasi yang panjang ini membuka berbagai kemungkinan sumber kontaminasi lain di luar menu sekolah.








