Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melakukan kunjungan kerja langsung ke wilayah terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu (26/8). Langkah taktis ini diambil guna memastikan penanganan pascabencana berjalan dengan cepat, terarah, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang terdampak di Pulau Flores.
Setibanya di lokasi dengan helikopter kepresidenan, Kepala Negara langsung menaiki kendaraan taktis Maung untuk menuju posko utama darurat. Kehadiran Presiden yang didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ini disambut hangat oleh para prajurit TNI dan relawan yang bertugas di garis depan pertolongan.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa sejak gempa mengguncang Flores pada 15 Agustus lalu, pemerintah pusat bergerak cepat menyalurkan logistik. Hingga kini, lebih dari 204 ton sembako, puluhan ton makanan siap saji, air mineral, serta obat-obatan telah didistribusikan ke berbagai titik pengungsian.
Sektor kesehatan juga menjadi prioritas utama dalam misi kemanusiaan ini. Pemerintah telah mengerahkan fasilitas kesehatan terapung skala besar, seperti KRI Soeharso-990 milik TNI AL yang bersandar di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, serta Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga di Kabupaten Manggarai Timur. Keduanya difungsikan sebagai rumah sakit lapangan guna memberikan layanan medis darurat bagi warga setempat.
Setelah memantau kondisi lapangan, Presiden Prabowo langsung memimpin rapat koordinasi strategis di Posko Penanganan Bencana Batalyon Teritorial Pembangunan Kabupaten Nagekeo. Rapat penting ini dihadiri oleh jajaran menteri kabinet dan petinggi keamanan, di antaranya Mendagri Tito Karnavian, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita.
Dalam arahannya, Presiden menegaskan bahwa komitmen pemerintah tidak akan berhenti pada masa tanggap darurat saja. Pemerintah pusat berjanji akan mengawal proses pemulihan jangka panjang melalui rehabilitasi fasilitas umum dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak, demi membangun kembali kehidupan masyarakat Flores secara lebih kokoh dan berkelanjutan.








