Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian nyata mendekati kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim hingga akhir Agustus 2026, tercatat setidaknya 470 peristiwa karhutla telah menghanguskan lahan seluas 1.393,78 hektare di wilayah penyangga ibu kota baru tersebut.
Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang menjadi lokasi inti pembangunan IKN, tidak luput dari amukan si jago merah. Di wilayah ini, telah terjadi 42 kasus kebakaran yang melahap sekitar 41,07 hektare lahan. Sementara itu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatat dampak yang jauh lebih masif, yakni 49 kejadian kebakaran dengan total area terdampak mencapai 440,88 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD PPU, Nurlaila, mengungkapkan bahwa lonjakan kasus karhutla mulai terlihat signifikan sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2026. Menurutnya, kondisi cuaca kering yang ekstrem menjadi pemicu utama meluasnya titik api di kawasan tersebut.
“Memang terjadi peningkatan intensitas kebakaran sejak Juli dan Agustus, yang sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem,” jelas Nurlaila. Namun, ia memastikan bahwa penanganan di lapangan terus dioptimalkan secara kolaboratif bersama instansi terkait.
Untuk mengantisipasi situasi yang lebih buruk, petugas gabungan langsung melakukan pengecekan lapangan (ground check) setiap kali satelit mendeteksi adanya titik panas (hotspot). Selain itu, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan potensi kebakaran melalui jalur darurat Call Center 112 maupun pihak pemadam kebakaran terdekat agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Secara akumulatif di Kalimantan Timur, Kabupaten Paser menjadi wilayah dengan frekuensi karhutla tertinggi, yakni 121 kejadian yang menghanguskan 294,83 hektare. Mayoritas objek yang terbakar di Kaltim didominasi oleh lahan terbuka seluas 1.330,23 hektare, disusul kawasan hutan dan perkebunan warga.
Meski kepulan asap belum mengganggu aktivitas di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN, kesiapsiagaan di wilayah-wilayah penyangga terus ditingkatkan demi menjaga stabilitas lingkungan dan kelancaran pembangunan mega proyek nasional tersebut.








