Sinergi lintas sektoral demi mewujudkan ketahanan pangan nasional kini makin diperkuat. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengambil langkah konkret dengan menggelar aksi tanam serentak dan panen raya bawang putih di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah strategis ini diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap impor serta mempercepat tercapainya swasembada bawang putih di tanah air.
Di kawasan Sembalun yang subur, Polri mengawal panen raya bawang putih di atas lahan seluas 105 hektare. Dengan potensi hasil panen yang mencapai 1.050 ton, momentum ini menjadi bukti nyata potensi besar pertanian lokal. Tak hanya itu, komitmen jangka panjang juga ditunjukkan melalui peletakan batu pertama (groundbreaking) Gudang Ketahanan Pangan Polri seluas 250 meter persegi dengan kapasitas simpan hingga 300 ton guna menjaga kualitas hasil tani pascaproduksi.
Agenda besar ini dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bersama Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto. Melalui kolaborasi erat dengan kementerian dan pemerintah daerah, Polri telah memetakan potensi lahan terverifikasi seluas 2.593,1 hektare di 17 wilayah Polda, yang melibatkan sekitar 2.257 petani setempat.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, aksi penanaman bawang putih serentak juga digelar di 14 Polda dengan cakupan lahan 279,5 hektare. Langkah ini diproyeksikan menyumbang produksi hingga 2.795 ton pada akhir tahun 2026. Guna memaksimalkan produktivitas, para petani turut disokong bantuan alat mesin pertanian modern berupa puluhan unit traktor tangan, pompa air bertenaga surya, hingga belasan ton pupuk subsidi.
Menariknya, Polri juga mendorong inovasi riset dengan menggandeng kelompok tani lokal untuk mengembangkan bibit bawang putih yang mampu tumbuh optimal di bawah ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Terobosan ini diharapkan dapat memperluas wilayah sentra produksi bawang putih ke dataran yang lebih rendah di berbagai pelosok Indonesia.








