Guncangan hebat akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang berpusat di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu kepanikan luar biasa hingga ke wilayah Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Khawatir akan ancaman tsunami, warga di pulau-pulau terluar Selayar dilaporkan berbondong-bondong menyelamatkan diri dengan mendaki wilayah pegunungan demi menghindari potensi bahaya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Selayar, Ahmad Aliefyanto, mengonfirmasi adanya aksi pengungsian mandiri tersebut. Menurutnya, kepanikan warga dipicu oleh rasa trauma masa lalu terhadap bencana serupa. Meski situasi di Kepulauan Selayar kini sudah berangsur kondusif dan hanya merasakan getaran gempa utama, warga secara spontan langsung lari ke dataran tinggi sesaat setelah merasakan guncangan kuat pada Sabtu pagi.
Ahmad Aliefyanto menjelaskan bahwa sebenarnya belum ada perintah resmi dari otoritas setempat untuk melakukan evakuasi ke pegunungan. Protokol keselamatan awal seharusnya adalah keluar dari rumah terlebih dahulu. Namun, reaksi cepat warga yang langsung naik ke bukit menunjukkan tingkat kewaspadaan dan trauma mendalam yang masih membekas di tengah masyarakat pesisir.
Senada dengan pihak BPBD, Komisioner KPU Selayar, Muhammad Arsat, turut merasakan kedahsyatan getaran tersebut. Ia menggambarkan situasi pagi itu cukup mencekam karena guncangan yang dirasakan sangat kuat, khususnya di kawasan Kota Benteng, Selayar. Kendati demikian, ia memastikan tidak ada laporan kerusakan bangunan fisik yang signifikan di wilayah pusat kota tersebut.
Berdasarkan data terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa utama ini memicu rentetan gempa susulan yang mencapai sedikitnya 111 kali hingga pukul 10.00 WITA. Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada karena aktivitas seismik masih terus berlangsung, meskipun dengan magnitudo yang kian mengecil.
Sebelumnya, BMKG sempat mengeluarkan status Siaga tsunami untuk beberapa wilayah pesisir di NTT dan Sulawesi Selatan, termasuk Selayar, Jeneponto, dan Bantaeng. Walaupun peringatan dini tsunami tersebut kini telah resmi dicabut, aksi penyelamatan mandiri warga Selayar menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana yang cepat di daerah rawan gempa.








