Wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), baru saja diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan cukup besar, yakni Magnitudo (M) 7,7. Peristiwa alam yang terjadi pada Sabtu pagi ini langsung memicu reaksi cepat dari pemerintah setempat. Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, segera mengeluarkan imbauan resmi agar seluruh lapisan masyarakat tetap tenang namun senantiasa meningkatkan kewaspadaan.
Berdasarkan rilis resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi sekitar pukul 05.58 WITA. Pusat gempa atau episentrum dilaporkan berada di laut, tepatnya pada koordinat 8,35 Lintang Selatan dan 121,37 Bujur Timur, berjarak sekitar 36 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo. Dengan kedalaman yang cukup dangkal yaitu 10 kilometer, guncangan gempa ini dirasakan sangat kuat hingga ke wilayah Kabupaten Sikka.
Menyikapi situasi darurat ini, Bupati Juventus meminta warga, khususnya yang menetap di sepanjang kawasan pesisir pantai, untuk ekstra waspada terhadap potensi gelombang tsunami. Meskipun laporan awal menunjukkan potensi tsunami relatif kecil, langkah antisipasi dini dinilai sangat krusial guna menghindari korban jiwa.
“Kami mengimbau warga untuk sementara waktu menjauhi area pantai, tepi sungai, serta bangunan-bangunan yang retak atau rawan roboh. Keselamatan diri dan keluarga harus menjadi prioritas utama,” ujar Juventus tegas.
Selain meminta warga menjauh dari lokasi rawan, Pemerintah Kabupaten Sikka juga menyarankan masyarakat untuk segera mempersiapkan Tas Siaga Bencana (TSB). Tas ini idealnya berisi dokumen-dokumen penting, perbekalan makanan dan air minum darurat, obat-obatan pribadi, serta alat penerangan seperti senter.
Warga juga diingatkan untuk tidak mudah memercayai kabar bohong atau hoaks yang kerap beredar pascabencana. Informasi valid mengenai kondisi terkini pascagempa Flores hanya bersumber dari kanal resmi BMKG, BPBD, serta otoritas pemerintah daerah.
Saat ini, tim gabungan dari BPBD Sikka, TNI, Polri, dan para relawan kemanusiaan telah diterjunkan ke lapangan. Mereka terus melakukan patroli, memantau dampak kerusakan fisik, serta bersiaga penuh untuk melakukan proses evakuasi apabila situasi memburuk.








