Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu mengambil langkah cepat dalam menangani gangguan pasokan air bersih yang melanda warga Pulau Kelapa Dua. Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, melakukan peninjauan langsung ke fasilitas Sistem Penyediaan Air Minum berbasis Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) milik PAM JAYA yang dilaporkan mengalami kerusakan teknis hingga menghentikan produksi air secara normal.
Langkah peninjauan ini dilakukan guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat terhadap air bersih tidak terganggu dalam jangka panjang. Fadjar menegaskan bahwa pihaknya terus berkoordinasi secara intensif dengan PAM JAYA agar proses pemulihan fasilitas desalinisasi air laut ini menjadi prioritas utama dan diselesaikan secepat mungkin.
Penyebab Kerusakan SWRO Pulau Kelapa Dua
Berdasarkan pemeriksaan di lapangan, terdapat beberapa kendala krusial yang menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas produksi air bersih. Koordinator SWRO PAM JAYA Pulau Kelapa Dua, Andi Ardiansyah, mengungkapkan bahwa kerusakan utama terletak pada sensor pembaca tekanan membran. Kerusakan komponen sensitif ini mengakibatkan mesin bertekanan tinggi (high pressure) sering mati dan hidup secara tidak stabil.
Selain kendala mekanis tersebut, warga juga sempat mengeluhkan air hasil produksi yang mengeluarkan aroma tidak sedap. Andi menjelaskan, bau tersebut dipicu oleh kerusakan pada pompa lumpur. Akibatnya, endapan lumpur lolos dan masuk ke dalam jalur pipa produksi. Masalah ini diperparah dengan habisnya stok bahan kimia pemurni air, yaitu sodium hypochlorite (NaOCl).
Komitmen Perbaikan dan Kapasitas Produksi
Guna mengatasi persoalan ini, PAM JAYA telah menjadwalkan kedatangan tim teknisi khusus dari kantor pusat pada 14 Agustus mendatang untuk melakukan perbaikan menyeluruh. Pemerintah daerah berjanji akan mengawal ketat proses pemulihan ini agar air yang nantinya didistribusikan benar-benar higienis dan layak konsumsi.
Fasilitas SWRO di Pulau Kelapa Dua sejatinya memiliki peran yang sangat vital bagi warga setempat. Dalam kondisi optimal, mesin ini mampu beroperasi selama 22 jam sehari untuk menghasilkan sekitar 19 meter kubik air bersih. Air tersebut kemudian didistribusikan kepada warga selama dua jam per hari dengan volume mencapai 15 hingga 20 meter kubik. Pengawasan ketat akan terus dilakukan demi menjamin hak masyarakat atas air bersih tetap terpenuhi secara berkelanjutan.








