Dunia maya kembali dihebohkan oleh sebuah video yang menyayat hati, menampilkan seorang siswi Sekolah Dasar (SD) menangis pilu setelah menjadi korban perundungan. Anisa Azahra Munaimbala, bocah 9 tahun yang akrab disapa Icha, dari Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara (Sulut), tak kuasa menahan tangis setelah diejek oleh teman sebayanya dengan kalimat-kalimat menyakitkan: “Ayahnya miskin dan rumahnya jelek.” Insiden ini menyoroti luka mendalam yang bisa ditimbulkan oleh kekerasan verbal, terutama yang berakar pada stigma sosial dan kondisi ekonomi.
Video yang merekam tangisan pilu Icha dengan cepat menyebar, menarik perhatian publik dan memicu gelombang keprihatinan. Sang ibu, Feyti Kawulusan, merekam momen tersebut sebagai bentuk ekspresi kekecewaan dan harapan agar anaknya tidak lagi menjadi sasaran ejekan. Feyti mengungkapkan bahwa kejadian ini terjadi di dekat rumah mereka di Jaga V, Desa Molompar II Utara, Kecamatan Tombatu Timur. Saat mendengar keributan, Feyti mendapati Icha sudah tersedu-sedu, dan setelah ditanya, Icha menceritakan perlakuan tidak menyenangkan yang ia alami. Ironisnya, ini bukan kali pertama Icha menjadi korban perundungan semacam ini.
“Anak saya di-bully, rumahnya dibilang jelek dan ayahnya disebut orang miskin, itu yang membuat Icha paling sakit hati,” tutur Feyti dengan nada pilu, dikutip dari sumber terpercaya. Sebagai ibu rumah tangga dan suaminya bekerja sebagai buruh tani, Feyti mengakui kondisi ekonomi keluarganya yang sederhana. Ia sangat menyayangkan tindakan teman-teman Icha yang menjadikan kemiskinan sebagai bahan ejekan, mengingat dampak psikologis yang bisa ditimbulkan pada mental anak. Harapan Feyti sederhana: agar kondisi ekonomi keluarganya tidak menjadi alasan bagi siapa pun untuk merendahkan atau menyakiti perasaan anaknya.
Kasus perundungan yang menimpa Anisa Azahra ini menjadi pengingat keras bagi kita semua tentang pentingnya empati dan pendidikan karakter sejak dini. Bullying yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi dapat meninggalkan trauma mendalam dan merusak rasa percaya diri anak. Sekolah, orang tua, dan masyarakat memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif, di mana setiap anak merasa dihargai tanpa memandang latar belakang. Diperlukan upaya kolektif untuk membendung perilaku perundungan dan mengedukasi generasi muda tentang nilai-nilai kasih sayang, penerimaan, serta pentingnya menghargai keberagaman.
Kisah Icha bukan hanya sekadar berita viral, melainkan cerminan dari tantangan sosial yang masih harus kita hadapi. Mari bersama-sama hentikan siklus perundungan dan berikan dukungan kepada korban, sekaligus menanamkan kesadaran bahwa kekayaan sejati terletak pada kebaikan hati dan kemanusiaan, bukan pada harta benda.

