BANYUWANGI, KOTAKITA – Gelaran akbar Festival Gandrung Sewu ‘Glow in The Dark’ di Pantai Marina Boom, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (24/10) malam lalu, sukses memukau puluhan ribu pasang mata dari berbagai penjuru Indonesia. Namun, di balik kemilau tarian kolosal tersebut, tersimpan pula tantangan besar yang menguji kapasitas penyelenggaraan acara budaya berskala masif.
Antusiasme publik terhadap pertunjukan yang tahun ini mengusung konsep baru “Glow in The Dark” memang di luar dugaan. Menurut data dari PT Menara Maritim Indonesia, pengelola Pantai Marina Boom, sekitar 20 ribu pengunjung memadati area utama untuk menyaksikan langsung keindahan 1.300 penari Gandrung yang beraksi dengan aksesori fosfor yang berpendar di kegelapan malam. Inovasi ini, diakui Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, menjadi magnet utama yang menarik minat masyarakat secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Gandrung Sewu sendiri bukanlah agenda baru. Festival seni yang telah memasuki tahun ke-14 sejak pertama kali digelar pada 2012 ini telah menjadi salah satu ikon kebanggaan budaya Banyuwangi. Transformasi dari pertunjukan sore hari menjadi gemerlap malam hari dengan efek “Glow in The Dark” memang menambah dimensi artistik dan pengalaman yang tak terlupakan bagi penonton.
Sayangnya, euforia massal ini juga membawa implikasi logistik. Kepadatan luar biasa menyebabkan sebagian besar masyarakat yang telah jauh-jauh datang tidak dapat masuk ke area utama pertunjukan, bahkan setelah panitia menyiapkan 7.300 kursi, termasuk 1.300 kursi khusus bagi orang tua/wali penampil, serta layar LED di dua titik strategis untuk mengakomodasi penonton di luar area inti.
Menyikapi kondisi ini, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang kecewa karena tidak dapat menikmati pertunjukan secara langsung. “Kami sangat berterima kasih atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap Gandrung Sewu. Kami memahami betul semangat dan harapan para warga yang sudah hadir, namun belum semua dapat terakomodasi di arena utama,” ujar Ipuk dengan nada prihatin.
Penyelenggaraan Gandrung Sewu tahun ini, yang didukung oleh InJourney dan diselenggarakan secara gratis, akan menjadi bahan evaluasi penting bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Ipuk menegaskan bahwa masukan dan pengalaman masyarakat akan menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan di masa mendatang. “Antusiasme yang luar biasa ini akan menjadi pelajaran berharga. Kami berkomitmen untuk terus berupaya meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi seluruh pihak, sembari tetap memperhatikan kapasitas lokasi dan keselamatan,” pungkasnya.
Keberhasilan Gandrung Sewu ‘Glow in The Dark’ dalam menarik massa membuktikan potensi besar seni budaya lokal sebagai daya tarik pariwisata. Namun, juga sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya perencanaan kapasitas dan manajemen keramaian yang lebih matang dalam setiap perhelatan berskala nasional.








