Gelombang demonstrasi massal kembali mengguncang berbagai kota di Prancis, dengan ratusan ribu warga turun ke jalan menyuarakan beragam tuntutan mendesak. Aksi protes ini, yang sebagian besar berlangsung damai, mencerminkan ketidakpuasan publik yang mendalam terhadap isu-isu krusial seperti biaya hidup yang melonjak, investasi pendidikan yang dirasa minim, hingga terbatasnya lapangan kerja bagi generasi muda.
Kementerian Dalam Negeri Prancis melaporkan bahwa sekitar 410.000 orang berpartisipasi dalam demonstrasi di seluruh negeri, dengan sekitar 110.000 di antaranya memadati ibu kota Paris. Angka ini hampir setara dengan partisipasi pekan sebelumnya, menandakan konsistensi dan skala gerakan protes yang signifikan. Meski pemerintah mengklaim aksi berjalan damai di banyak lokasi, insiden bentrokan dan penahanan tetap tak terhindarkan. Tercatat, hampir 1.000 orang ditahan selama gelombang protes tersebut, meningkat drastis dibandingkan penahanan pada pekan sebelumnya yang mencapai 385 orang.
Menanggapi situasi ini, otoritas Prancis mengerahkan sekitar 70.000 personel kepolisian, termasuk unit khusus, helikopter, kendaraan lapis baja, anjing pelacak, dan meriam air, untuk mengamankan jalannya aksi. Menteri Dalam Negeri Prancis menggarisbawahi upaya aparat dalam mengendalikan pergerakan massa dan mencegah aksi tanpa izin. Namun, gesekan tetap terjadi di beberapa titik, terutama setelah pawai damai berakhir.
Di Paris, pasca-pawai di kawasan Porte de Vincennes, bentrokan meletus antara demonstran dan polisi yang menggunakan gas air mata serta meriam air untuk membubarkan kerumunan. Pemandangan serupa juga terekam di Marseille, kota terbesar kedua di Prancis, di mana beberapa demonstran menembakkan kembang api mortir ke arah petugas. Laporan juga menyebutkan insiden penjarahan berskala terbatas di beberapa kota, termasuk toko perhiasan dan supermarket, meskipun situasinya disebut lebih terkendali dibandingkan pekan lalu yang menyaksikan serangan terhadap fasilitas publik.
Gelombang demonstrasi ini juga menyoroti potensi eskalasi krisis sosial dan politik. Pemimpin partai sayap kiri La France Insoumise, Jean-Luc Mélenchon, bahkan telah memperingatkan kemungkinan pemogokan nasional pada 5 November jika pemerintah Presiden Emmanuel Macron tidak segera merespons tuntutan para demonstran. Ancaman pemogokan umum yang diserukan serikat pekerja ini menambah tekanan pada pemerintahan Macron untuk menemukan solusi konkret atas kegelisahan publik.
Fenomena serupa tidak hanya terjadi di Prancis. Beberapa negara Eropa lain juga turut dilanda protes serupa. Di Italia, kota-kota besar seperti Napoli, Roma, dan Milan bersiaga dengan menutup toko-toko jelang demonstrasi, menyusul insiden penjarahan sebelumnya. Di Tirana, ibu kota Albania, demonstran membakar tempat sampah dan melemparkan batu, sementara di Brussel, Belgia, mahasiswa menggelar aksi memblokade jalan, menunjukkan adanya ketidakpuasan regional yang lebih luas terhadap berbagai kebijakan ekonomi dan sosial.








