Ketenangan pagi di sejumlah negara Eropa mendadak terusik pada Senin (19/10) menyusul gelombang ancaman bom yang menyasar ratusan institusi pendidikan. Insiden yang tampaknya terkoordinasi ini menyebar luas di Irlandia Utara, Skotlandia, Hungaria, dan Serbia, memicu evakuasi massal dan kekhawatiran yang meluas di kalangan orang tua dan staf sekolah.
Pihak berwenang di berbagai negara dengan cepat merespons, namun sebagian besar ancaman tersebut kemudian disimpulkan sebagai upaya penipuan atau hoaks. Meskipun demikian, dampaknya terhadap kegiatan belajar-mengajar dan psikis masyarakat tidak bisa dianggap remeh. Ribuan siswa dan guru terpaksa mengosongkan gedung sekolah mereka, mengganggu rutinitas harian dan menciptakan suasana ketidakpastian.
Di Irlandia Utara, kepolisian setempat melaporkan bahwa hingga 300 sekolah menerima email berisi ancaman umum yang diduga kuat bersifat intimidatif. Email serupa juga dilaporkan diterima di beberapa sekolah lain di Inggris. Menteri Pendidikan Irlandia Utara, Paul Givan, mengungkapkan bahwa pesan tersebut diduga berasal dari “kelompok Islamis”, yang mengancam akan memberlakukan hukum Syariah dan mengklaim telah menempatkan perangkat peledak di lingkungan sekolah. Pesan tersebut bahkan ditandatangani dengan frasa “Allahu Akbar”. Givan mengutuk keras tindakan ini, menyebutnya sebagai upaya untuk mengganggu sistem pendidikan. Meski demikian, mayoritas sekolah di wilayah tersebut berhasil melanjutkan aktivitas normal setelah memastikan keamanan.
Situasi serupa juga terjadi di Skotlandia. Kepolisian Skotlandia mengonfirmasi penerimaan informasi mengenai “pesan ancaman” yang dikirimkan ke sejumlah sekolah. Seperti di Irlandia Utara, ancaman ini juga segera dianggap sebagai tipuan, namun penyelidikan intensif tetap dilakukan untuk melacak sumbernya.
Sementara itu, di Eropa Tengah, Hungaria dan Serbia turut menjadi target. Di Hungaria, laporan masuk ke pihak kepolisian mengenai email yang mengklaim bom telah ditempatkan di lebih dari 70 sekolah. Beberapa tempat usaha juga dievakuasi sebagai tindakan pencegahan. Menteri Dalam Negeri Hungaria, Gabor Posfai, melalui media sosialnya memastikan bahwa hasil penyelidikan awal menunjukkan ancaman tersebut tidak berdasar. Di negara tetangganya, Serbia, stasiun televisi pemerintah RTS melaporkan lebih dari 100 sekolah juga menerima jenis ancaman bom yang sama.
Keseragaman modus operandi, yaitu pengiriman email massal yang berisi ancaman bom, mengindikasikan kemungkinan adanya koordinasi atau setidaknya inspirasi dari satu sumber. Pihak kepolisian dari negara-negara yang terdampak kini tengah berupaya keras untuk mengungkap identitas pelaku di balik teror digital ini, serta menelusuri motif dan kemungkinan keterkaitan antara insiden-insiden tersebut. Fenomena ancaman bom palsu semacam ini menyoroti kerentanan institusi publik terhadap kejahatan siber dan kebutuhan akan sistem keamanan yang lebih tangguh di era digital.








