JAKARTA – Dinamika Kabinet Merah Putih kembali bergejolak dengan langkah signifikan yang diambil Presiden Prabowo Subianto. Dalam sebuah reshuffle yang menyita perhatian publik, Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa resmi dilantik sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan). Penunjukan ini bukan sekadar pergantian jabatan biasa, melainkan cerminan strategi pemerintah dalam memperkuat sektor krusial pertanian di tengah tantangan global dan domestik.
Pelantikan Saleh Mustafa, yang dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 104 P Tahun 2026, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Sudaryono. Sudaryono sendiri kini mengemban amanah baru sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), sebuah lembaga yang baru dibentuk dan menunjukkan komitmen serius pemerintah terhadap isu nutrisi dan ketahanan pangan. Perpindahan ini secara gamblang memperlihatkan upaya sinergis dalam menata ulang struktur pemerintahan demi optimalisasi kinerja.
Sosok Muhammad Saleh Mustafa bukanlah nama asing di lingkungan militer. Pria kelahiran Ternate, Maluku Utara, pada 14 Maret 1969 ini merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1991 dengan spesialisasi infanteri. Rekam jejaknya di TNI sangat impresif, dimulai dari berbagai penugasan di satuan tempur hingga menduduki posisi strategis di tingkat Mabes TNI. Sebelum dilantik sebagai Wamentan, Saleh Mustafa menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad), sebuah posisi vital yang memegang kendali operasional dan pembinaan kekuatan TNI Angkatan Darat. Sebelumnya, ia juga dipercaya mengemban amanah sebagai Inspektur Jenderal TNI, yang menyoroti kapabilitasnya dalam pengawasan dan audit internal.
Pengalaman Saleh Mustafa tidak hanya sebatas di meja komando. Ia dikenal memiliki pengalaman lapangan yang luas, termasuk saat menjabat sebagai Kepala Staf Komando Operasi Gabungan Wilayah II. Yang paling menonjol adalah keterlibatannya dalam Operasi Tinambola, yang kemudian berevolusi menjadi Operasi Madago Raya. Operasi militer ini, yang dilancarkan sejak 2016 di Poso, Sulawesi Tengah, merupakan upaya gabungan TNI dan Polri untuk menumpas jaringan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Keterlibatannya dalam operasi semacam ini menunjukkan kapasitasnya dalam menghadapi tantangan kompleks, memimpin tim dalam situasi berisiko tinggi, dan merumuskan strategi taktis yang efektif.
Transisi dari lingkungan militer yang serba terukur dan disiplin ke ranah birokrasi pertanian tentu membawa tantangan tersendiri. Namun, pengalaman Saleh Mustafa dalam manajemen logistik, perencanaan strategis, dan kepemimpinan diyakini akan menjadi modal berharga. Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional, memerlukan pendekatan yang terstruktur, efisien, dan visioner. Dengan latar belakang militer, diharapkan ia dapat membawa etos kerja yang kuat, kedisiplinan dalam eksekusi program, serta kemampuan untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah secara sistematis.
Penunjukan Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wamentan diharapkan mampu memberikan dorongan baru bagi sektor pertanian nasional. Fokus utama tentu akan tertuju pada peningkatan produksi, stabilisasi harga komoditas, dan peningkatan kesejahteraan petani. Di bawah kepemimpinan baru ini, publik menantikan terobosan dan inovasi yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan, sejalan dengan visi besar Kabinet Merah Putih.








