Tragedi memilukan kembali melanda satwa endemik Kalimantan. Sebanyak 12 ekor bekantan (Nasalis larvatus) dilaporkan tewas mengenaskan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Kejadian tragis ini memicu keprihatinan mendalam mengenai kelestarian satwa yang dilindungi undang-undang tersebut di tengah ancaman bencana kebakaran musiman.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Agus Ngurah Krisna, mengonfirmasi peristiwa tersebut setelah menerima laporan dari masyarakat dan petugas pemadam kebakaran setempat. Tidak hanya primata berhidung panjang tersebut, kobaran api yang dahsyat juga merenggut nyawa satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra yang berada di wilayah yang sama.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kebakaran melahap sekitar 80 persen lahan milik masyarakat yang menjadi wilayah jelajah satwa-satwa ini. Habitat bekantan di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) tersebut sebenarnya sudah terfragmentasi menjadi beberapa area terpisah dengan luas masing-masing dua hingga tiga hektare saja. Ketika api berkobar sangat besar disertai embusan angin kencang, kawanan bekantan ini diduga panik dan terjebak tanpa sempat menyelamatkan diri ke tempat aman.
Menanggapi bencana ekologis ini, Tim Penyelamat BKSDA Kalsel bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Petugas langsung mengevakuasi dan menguburkan seluruh bangkai bekantan yang ditemukan guna menghindari penyebaran penyakit. Selain itu, mereka terus menyisir sisa-sisa kebakaran untuk memantau satwa lain yang diperkirakan masih bertahan hidup di sekitar area tersebut, seperti lutung dan monyet ekor panjang.
BKSDA kini terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan mengajak warga sekitar untuk ikut serta menjaga kelestarian habitat yang tersisa. Masyarakat juga diimbau untuk segera melapor jika menemukan satwa liar yang terluka atau membutuhkan evakuasi medis darurat pasca-kebakaran.








